Bangkit Setelah Gagal di Dolly

Bangkit Setelah Gagal di Dolly
Dahlan Iskan.

Kami pun sepakat bertemu di rumah saya. Senin kemarin. Pukul 07:00. Kebetulan hari Senin pagi adalah satu-satunya hari libur bagi saya: libur senam.

Saya kaget. Dalu membawa rombongan enam orang. Salah satunya wanita berjilbab. Mereka adalah para junior Dalu di ITS, Unair dan UIN Sunan Ampel.

Status mereka baru lulus kuliah. Ada akuntansi, dokter hewan, teknik kimia dan fakultas dakwah. Umur mereka antara 22 dan 23 tahun. Hanya Dalu yang 28 tahun.

Dua tahun saya tidak ketemu Dalu. Tampilannya tidak berubah. Kurus, gelap, menggebu-gebu dan penuh idealisme.

“Apa kabar Dolly?,” tanya saya.

“Itulah Pak, mengapa saya ingin ketemu,” jawabnya.

Dalu lantas menceritakan ruwetnya birokrasi di Dolly. Kehadiran orang seperti Dalu bisa saja dianggap pesaing. Bukan partner.

Saya sudah menyangka. Tapi biarlah aktivis-idealis seperti Dalu mengalaminya sendiri. Mumpung masih belia.

Namanya agak sulit dieja: Dalu Nuzulul Kirom. Aktivitas sosialnya sulit dimengerti: merehabilitasi bekas kompleks pelacuran terbesar: Gang Dolly di Surabaya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News