Bangkit Setelah Gagal di Dolly

Bangkit Setelah Gagal di Dolly
Dahlan Iskan.

Dalu pun menguraikan rencana-rencana mulianya. Penuh gejolak. Sesak idealisme. Seperti mau meledak.

Dia lantas minta saran saya. Saya merenung sejenak. Perlukah anak muda penuh ide seperti Dalu diberi saran? Tidakkah nasehat hanya akan merusak idealismenya?

“Lakukan saja apa yang ada di pikiran Anda. Saran terbaik akan datang dari lapangan,” kata saya.

“Tapi saya ingin ketemu Anda lagi. Enam bulan lagi. Ingin mendengar hasilnya,” sambung saya. Saat itu.

Enam bulan kemudian saya kena perkara. Tidak bisa menemui Dalu. Juga tidak bisa menemui aktivis mahasiswa lain sekelas Dalu. Di bidang lain.

Bulan lalu Dalu menghubungi saya. Ingin bertemu. Saya pikir dia akan menceritakan perkembangan Gang Dolly. Setelah dua tahun tidak ketemu.

Tapi rasanya tidak. Tahun lalu saya muter Gang Dolly. Mengunjungi taman-taman baca Alquran di kompleks pelacuran itu. Yang dibuka oleh aktivis pemuda di sana.

Tapi bukan Dalu. Nama Dalu tidak berkibar lagi di Dolly.

Namanya agak sulit dieja: Dalu Nuzulul Kirom. Aktivitas sosialnya sulit dimengerti: merehabilitasi bekas kompleks pelacuran terbesar: Gang Dolly di Surabaya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News