Bawang Yawuyoko

Oleh: Dahlan Iskan

Bawang Yawuyoko
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

"Bawang merah?"

"Daun bawang. Yang kami panen daunnya. Dijual ke pedagang. Dibawa ke luar daerah," jawabnya.

Meski kerja di ladang kulitnya tidak lebih hitam dan rambutnya tidak lebih lurus.

Wajahnya tetap wajah cendekia seperti umumnya orang Papua dari Wamena. Bicaranya lirih, tutur katanya lembut, tangannya terus seperti ngapurancang dan sesekali tersenyum. Ia lebih lembut dari orang Jawa masa kini.

Tanah 1 hektare itu digarap sendirian tanpa alat mekanis seperti traktor. Ups, tidak sendirian. Ia dibantu sejumlah orang di kampungnya. Dibantu. Bantu tenaga. Untuk mencangkul.

Bentuk cangkul di Wamena seperti sekop. Gagangnya panjang sekali. Mereka mencangkul sambil berdiri tegak. Sekopnya yang dihunjamkan ke tanah. Lalu diungkit.

Setiap tiba saatnya mengolah tanah pemuda Disway ini keliling ke rumah-rumah tetangga. Ia minta bantuan tenaga untuk mencangkul. Saat itu juga tetangga menjawab: bisa atau tidak. Umumnya bisa.

Kalau sudah mendapat 10 kesanggupan ia tidak minta yang lain lagi. Cukup. Keesokan harinya 10 orang itu turun ke ladang milik pemuda Disway itu. Mereka ramai-ramai mencangkul. Sampai tuntas. Kalau hari itu tidak selesai dilanjutkan keesokan harinya. Tidak lebih dua hari.

Di Jayawijaya ia punya masjid. Kalau Jumat ia yang berkhotbah. Waktu peringatan Maulid Nabi dua minggu lalu ia menyelenggarakan acara adat setempat: bakar batu.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News