Bawang Yawuyoko

Oleh: Dahlan Iskan

Bawang Yawuyoko
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

Pemuda Disway itu juga sering didatangi tetangga. Untuk dimintai tolong mencangkul di tanah tetangga. Ia juga selalu menyediakan diri untuk itu.

Tidak ada upah yang harus dibayarkan. Cukup diberi minum dan makan siang.

Minumnya pun cukup air putih. Diambil dari sungai terdekat. Tidak perlu direbus.

Untuk makan siang mereka disediakan ubi. Bukan ubi jalar atau singkong. Ubi Jayawijaya. Orang di Jakarta menyebutnya talas.

Di Wamena disebut hepuru atau hepiri.

Talas Wamena enaknya luar biasa. Saya suka kangen talas Jayawijaya.

Kerja tanpa upah di tanah tetangga sebelah seperti itu sudah berlangsung turun-temurun.

Tidak ada perasaan apa pun di antara mereka kecuali hidup harus saling membantu. Gotong royong yang asli justru masih hidup di Wamena. Di sana tidak disebut gotong royong. Mereka menyebutnya yawuyoko.

Di Jayawijaya ia punya masjid. Kalau Jumat ia yang berkhotbah. Waktu peringatan Maulid Nabi dua minggu lalu ia menyelenggarakan acara adat setempat: bakar batu.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News