Belfast Dublin

Oleh Dahlan Iskan

 Belfast Dublin
Dahlan Iskan.

Namun itu berarti saya harus masuk ke negara lain --ke Republik Irlandia. Dublin adalah ibu kotanya.

Baca Juga:

Ya, sudah. Lakukan saja. Ikuti GPS. Ke arah selatan.

Begitu mobil melewati Kota Newry, saya mulai waspada. Semestinya 15 menit kemudian tiba di perbatasan itu. Begitulah menurut peta yang saya ukur sendiri.

Tidak ada lagi desa. Apalagi kota. Newry adalah kota terakhir di wilayah Inggris. Tidak pula terlihat lagi rumah. Atau ternak.

Yang ada hanya tanah bergunduk-gunduk. Belum memenuhi syarat untuk disebut berbukit-bukit.

Kanan kiri tanah kosong. Hijau. Pepohonan tidak terlalu lebat. Mungkin kini sudah waktunya memasuki perbatasan.

Oh, itu dia tandanya. Hanya satu papan di kiri jalan. Saya tidak sempat membaca lengkap. Jalan ini terlalu mulus. Semua mobil berjalan cepat. Kalau saya melambatkan mobil terasa aneh. Apalagi hanya untuk membaca kata di papan kecil itu.

Saya juga tidak sempat memotret sambil nyetir. Intinya, ini bukan seperti perbatasan.

Saya sampai di Dublin. Makan siang di situ. Harus mencari tempat parkir dulu. Dua jam Rp 350.000, padahal mobilnya sedan kecil Ford.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News