Budaya Tandingan Ida Dayak

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Budaya Tandingan Ida Dayak
Pengumumpan pembatalan pengobatan alternatif Ida Dayak, di Kostrad Cilodong, Kota Depok. Foto : Lutviatul Fauziah/JPNN

Masih seringnya terjadi pasien ditolak oleh rumah sakit, atau pasien BPJS Kesehatan yang dianggap pasien gratisan membuat masyarakat lebih menaruh harapan tinggi kepada pengobatan alternatif ala Ida Dayak.

Mereka yang tinggal di daerah terpencil harus berjalan kaki puluhan kilometer melewati medan yang sangat berat untuk mendapatkan layanan dari Puskesmas. Pengobatan ala Ida Dayak ini dianggap lebih mudah, murah dan terjangkau.

Literasi kesehatan masyarakat masih rendah. Program vaksinasi untuk mencegah penyebaran dan penularan Covid-19 ketika itu banyak diabaikan oleh masyarakat pedesaan. Rendahnya literasi kesehatan, juga menjadi salah satu sebab masih tingginya angka stunting dan gizi buruk di Indonesia.

Fenomena Ida Dayak bisa dilihat sebagai bagian dari budaya tandingan dan counter hegemony terhadap pemerintah. Sejarah Indonesia banyak diwarnai oleh munculnya budaya tandingan sebagai bentuk perlawanan diam terhadap kekuasaan yang tidak bisa melayani.

Sejarawan Kuntowijoyo meneliti budaya tandingan dalam episode sumur sakti di Surakarta pada 1914. Ketika itu di kampung Bratan, Laweyan, Surakarta muncul berita yang mengehebohkan masyarakat.

Bermula dari pengakuan seorang wanita tua di kampung Bratan yang bermimpi ditemui oleh seorang kakek tua yang mengatakan bahwa dhemit penjaga kampung Gajahan akan mempertontonkan gambar hidup di sumur yang terletak di halaman rumahnya.

Seorang anak kecil kemudian berteriak bahwa dia melihat dalam sumur milik perempuan tua ada api dan seekor harimau. Pengakuan anak kecil itu diperkuat lagi oleh beberapa perempuan yang mengaku melihat keajaiban pada sumur itu.

Kontan ribuan orang datang dari berbagai wilayah di Surakarta dan sekitarnya. Mereka berebut mengambil air sumur yang diyakini punya khasiat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit.

Pihak keamanan membubarkan praktik pengobatan Ida Dayak, karena tidak mungkin bisa melayani sebegitu banyak orang.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News