JPNN.com

Bukan Vape, Kematian di AS Akibat Penyalahgunaan Cairan Ganja

Selasa, 01 Oktober 2019 – 12:12 WIB Bukan Vape, Kematian di AS Akibat Penyalahgunaan Cairan Ganja - JPNN.com
Pengguna vapor atau rokok elektrik. Foto/ilustrasi: dokumen JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Otoritas kesehatan di Amerika Serikat (AS) mengumumkan kasus kematian terkait rokok elektrik (vape) merupakan penyalahgunaan narkotika akibat transaksi “pasar gelap”.

Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) meminta para pihak lebih objektif terhadap rokok elektrik yang sudah mulai diakui sebagai solusi mengurangi jumlah perokok aktif itu.

Ketua APVI Aryo Andrianto mengatakan, sudah jelas bahwa produk cairan yang digunakan sampai menyebabkan kerusakan paru dan kematian adalah liquid mengandung ganja. ”Sudah dijelaskan di media-media di AS. Penggunaan liquid ganja itu yang jadi masalahnya dan tidak banyak diungkap media-media di Indonesia,” kata Aryo.

Aryo menegaskan, mengonsumsi liquid ganja alias ganja cair dipastikan menimbulkan penyakit. Sangat disayangkan bisa beredar bebas di pasar AS. ”Sedangkan di Indonesia liquid yang mengandung ganja itu memang dilarang,” tegasnya.

Ia pun meminta para pihak yang selama ini gencar menyalahkan vape untuk lebih objetif menilai rokok eletrik itu. ”Ini kan sebenarnya cuma alat saja. Sama halnya dengan botol air mineral. Botol air mineral bisa disalahgunakan jadi alat bantu untuk menghisap narkoba,” ujar Aryo.

Fakta baru diungkap oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di AS pada Jumat (28/9) lalu. Dikutip dari situs resmi www.cdc.org, lembaga yang bertugas sebagai Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit itu mengumumkan bahwa para investigator di Illinois dan Wisconsin telah menemukan beberapa petunjuk.

Penyelidik di kedua negara bagian itu melakukan wawancara terperinci dengan 86 pasien yang sebagian besar laki-laki muda, dan 66 persen mengatakan mereka telah menguapkan produk THC berlabel Dank Vapes. THC adalah bahan psikoaktif dalam ganja.

Apa itu Dank Vapes dan bagaimana mereka bisa memicu penyakit?

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...