Cegah Gulung Tikar, LLP-KUKM Giat Latih Pebisnis Pemula

Cegah Gulung Tikar, LLP-KUKM Giat Latih Pebisnis Pemula
Dirut LLP-KUKM Ahmad Zabadi (kiri) menunjukan sepatu buatan UKM binaan di Galeri Indonesia WOW, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Foto: source for JPNN

Program WSA diharapkan menjadi terobosan baru untuk membimbing para star-up agar menghadirkan produk terbaik yang bisa dipasarkan dan dipromosikan lebih meluas lagi.

Sementara itu, dalam sesi kelas mentoring, Hermawan Kartajaya mengangkat materi Small Business Framework, Asia to The World. Hermawan membagikan pengalamannya saat menjabat sebagai President of Asian Council for Small Business (ACSB).

’’Saat itu membuat saya mempunyai kesempatan mengetahui kenapa start-up bisa berhasil dan bisa gagal. Di situ saya melihat bahwa start-up itu sama dengan entrepreneurship,’’ ujarnya.

Agar menjadi sukses, kata dia, start-up harus memiliki 3 pedoman. Yakni, entrepreneurship opportunity, berani mengambil risiko, dan kolaborasi. Namun, kebanyakan orang membuat start-up, tetapi tidak mengetahui arti entrepreneurship.

’’Selain tiga hal tersebut, start-up juga harus kreatif dalam menghadapi kompetitor. Banyak start-up membuat sesuatu yang sama, sehingga tidak ada kreativitas,’’ tambahnya.

Karena itu, branding sebuah start-up harus dibentuk dan dibuat secara efektif, efisien, dan produktif. Start-up pun harus tahu market mana yang akan dimasuki, lalu tahu segmen, kompetitor, dan customer.

Ahman Sya, Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan, Kementerian Pariwisata, mengatakan bahwa ada tiga kunci untuk menjadi start-up sukses.

Yaitu, disiplin, kerja keras, dan percaya terhadap Tuhan. Menurut dia, disiplin itu bukan sesuatu yang mudah, tapi tidak mustahil untuk diterapkan oleh start-up.

Star-up atau pebisnis pemula kian bermunculan. Namun, saat memulai bisnis mereka selalu terbentur oleh persaingan, sehingga akhirnya gulung tikar.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News