Dahlan Iskan: saat Hermawan Kartajaya Mendirikan MarkPlus, Dia Diejek dengan Bahasa Suroboyoan

Dahlan Iskan: saat Hermawan Kartajaya Mendirikan MarkPlus, Dia Diejek dengan Bahasa Suroboyoan
Dahlan Iskan saat di Skotlandia. Foto: disway.id

Menurut kolumnis kodang itu, Putera Sampoerna, pemilik pabrik rokok Dji Sam Soe itu, sampai heran dengan keputusan Hermawan.

"Gaji di Sampoerna, kan, besar. Mengapa berani berspekulasi untuk mencoba jadi guru marketing. Belum jelas pula pasarnya," tulisan Dahlan.

Dahlan juga menyinggung langkah Hermawan mendirikan MarkPlus, meskipun sempat diejek.

"Ketika Hermawan akhirnya mendirikan MarkPlus, ia diejek pakai bahasa Suroboyoan: mak ples. Artinya: tiba-tiba meredup untuk kemudian padam," tulisan Dahlan.

Hermawan awalnya memang guru matematika di SMP swasta Sasana Bhakti, di Jalan Jagalan. Ayahnya pengurus sekolah di tempat lain. Ibunya guru.

Lalu Hermawan mengajar di SMA St Louis Surabaya. Orang seperti eks Menteri ESDM  Ignasius Jonan, konglomerat Hary Tanoesoedibjo dan Kepala Pajak Jatim Prof John Hutagaol adalah murid-muridnya di St Louis.

"Hermawan bukan sarjana. Ia pernah kuliah di ITS jurusan elektro. Sudah hampir selesai. Namun ia berhenti. Ia bekerja," Lanjut Dahlan.

Setelah itu Hermawan memberi les matematika pada banyak sekali anak-anak. Dia perlu uang.

Dahlan Iskan menulis tentang Hermawan Kartajaya, pendiri MarkPlus yang bikin wasiat cadaver agar mayatnya kelak disumbangkan ke Fakultas Kedokteran Unair.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News