Demokrasi Jadi Kering Makna Tanpa Toleransi

Demokrasi Jadi Kering Makna Tanpa Toleransi
Demo antiGubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama. Foto: dok jpnn

jpnn.com - JAKARTA - Direktur ‎Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting (VCRC)‎ Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, nilai utama dalam demokrasi yaitu kebebasan dan keanekaragaman yang berbudaya.

Bahkan sejak Indonesia merdeka, hal tersebut kata Pangi, dikenal dengan sebutan ke-Indonesia-an. Yaitu wawasan kebangsaan yang menerima perbedaan dan sama rata dalam memperlakukan warga negara. 

"Jadi, ‎demokrasi tanpa kemampuan bertoleransi terhadap yang berbeda, tetap menjadi kering makna dan demokrasi kehilangan pesona," ujar pria yang akrab disapa Ipang ini, Senin (31/10).

Pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini mengutarakan pandangannya, menyikapi semakin memanasnya konstelasi politik di DKI Jakarta, memasuki masa kampanye pemilihan Gubernur DKI. Bahkan isu SARA mulai nyaring disuarakan segelintir oknum tertentu.

"Saya kira, kelompok mayoritas yang tidak menghargai hak-hak kebebasan minoritas, justru menjadi ancaman terhadap eksistensi demokrasi. Dan sebaliknya minoritas yang tidak menghargai hak-hak mayoritas juga akan mengguncang demokrasi," ujar Ipang. 

Selain itu, Ipang juga mengingatkan, bangsa Indonesia telah memutuskan bukan negara agama, tapi negara dengan dasar Pancasila. Karena itu perdebatan-perdebatan mengenai dasar negara, maupun isu SARA tak perlu lagi diembus-embuskan hanya untuk kepentingan tertentu.

"Hasil konsensus bapak bangsa berupa Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945, merupakan kompromi atau jalan tengah antara pihak Islam dan pihak kebangsaan untuk menjembatani perbedaan dalam agama dan negara," ujar Ipang.(gir/jpnn)


JAKARTA - Direktur ‎Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting (VCRC)‎ Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, nilai utama dalam demokrasi


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News