Diajak Suami Marwah Daud, Disuruh Siapkan Peti sebagai ATM Uang Barokah

Diajak Suami Marwah Daud, Disuruh Siapkan Peti sebagai ATM Uang Barokah
Uang. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

“Ayah saya kenal dengan Pak Ibrahim tahun 2000 lalu, saat suami Ibu Marwah itu datang ke Labandia, Kolaka (saat itu belum mekar menjadi Kolaka Timur, red),” kata Arman yang ditemui Kendari Pos, kemarin.

Ayahnya, kata Arman sudah mulai dipercaya menjadi koordinator pengikut Dimas Kanjeng di Sultra sejak 2012. Nyompa pun menerima amanah itu langsung dari Dimas Kanjeng di Probolinggo.

Tugasnya adalah mengembangkan pengikut dan praktek-praktek permintaan mahar dan janji penggandaan uang ke sejumlah kabupaten di Sultra. 

Tugas pertama Nyompa termasuk sukses karena berhasil mengajak 200 orang di Labandia sebagai pengikut.

“Ayah saya dibantu saudaranya bernama Yunus, PNS di Koltim untuk cari pengikut di Kolaka dan daerah lain,” kisah Arman. 

Katanya, ayahnya itu sebenarnya hanyalah seorang petani kakao dan hanya sempat mengenyam pendidikan di tingkat Sekolah Dasar. 

Tapi ia bisa terpengaruh mengingat yang mengajaknya adalah Ibrahim, suami dari seorang Marwah Daud yang memang dikenal sebagai tokoh di Soppeng, daerah asalnya.

Sejak 2013 lalu, kata Arman, ayah dan ibunya termasuk kakak sulungnya sudah menetap di Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo Jawa Timur (Jatim), dengan alasan dibutuhkan sang guru untuk bersama-sama merawat padepokan. 

H. NYOMPA merupakan salah satu pentolan pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Dia disebut-sebut sebagai koordinator wilayah Sulawesi Tenggara. Rupanya,

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News