JPNN.com

Diintai Dua Bulan, Saat Beraksi Ditembak Tapi tak Mati

Kamis, 11 Juli 2019 – 10:25 WIB Diintai Dua Bulan, Saat Beraksi Ditembak Tapi tak Mati - JPNN.com

jpnn.com, SURABAYA - Polisi menembak mati Zainul Fanani (32) tahun itu mengembuskan napas terakhir akibat melawan polisi saat ditangkap.

Peluru anggota Unit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Satreskrim Polrestabes Surabaya menembus dada kirinya.

Inggriani Widjaja merupakan salah seorang korban kejahatan Zainul. Perempuan 51 tahun itu dijambret saat pulang belanja dari salah satu mal di Surabaya Barat akhir Juni lalu. Tas miliknya yang dicangklong di bahu kanan ditarik paksa.

Sejumlah barang berharga ikut dibawa kabur oleh pelaku. Di antaranya, handphone, kartu ATM, dan beberapa dokumen penting.

BACA JUGA : Hati - Hati ! Jambret Berkendara Kawasaki Ninja Kini Mengincar Kompleks Perumahan

Untung, kejadian tersebut tertangkap kamera closed circuit television (CCTV). Wajah dan identitas pelaku terbaca. Dia adalah Zainul yang selama ini menjadi buron polisi.

Selasa malam (9/7) warga Desa Ngimbang, Mojosari, Mojokerto, itu terpantau sedang beredar di wilayah Surabaya Barat.

Dia ditengarai hendak mencari korban kejahatan lagi ''Tersangka ini sudah diintai sejak dua bulan terakhir. Korbannya banyak,'' ujar Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho.

2 dari 4 halaman

Anggota unit jatanras yang sedang berpatroli di wilayah barat langsung mengejarnya. Zainul terlacak di kompleks Perumahan Darmo Permai. Ketika itu dia ditodong senjata dan diminta menyerahkan diri.

BACA JUGA : Rampas Tas Isi Uang, Jambret Bagi untuk Istri, Anak Yatim dan Kotak Amal Masjid

Bukannya menyerah, bapak dua anak tersebut justru mengeluarkan pisau dari balik celananya.

Dengan beringas, dia berlari dan mengayunkan pisau penghabisan ke arah petugas. Sabetan pisau nyaris mengenai dada anggota unit jatanras.

Kepala Unit Jatanras Iptu Giadi Nugraha dan Kepala Unit Vice Control Ipda Tio Tondy sempat terlibat perkelahian dengan Zainul.

Bahkan, lengan kanan Tio terkena sabetan pisau. Untuk menghentikan aksi beringas Zainul, polisi memberikan tembakan peringatan.

Sayang, dua peluru yang dilepas ke udara tidak membuat Zainul gentar. Dia semakin beringas menyerang petugas.

''Karena membahayakan anggota, kita berikan tindakan tegas terukur (tembak mati, Red),'' kata Sandi.

3 dari 4 halaman

Aksi beringas Zainul terhenti setelah satu butir peluru bersarang di dada kirinya. Napasnya tersengal-sengal.

''Sudah dilumpuhkan, tapi belum meninggal dunia,'' ujar mantan Kapolrestabes Medan itu.

Sandi menyatakan, anggotanya sempat memberikan pertolongan. Tersangka dinaikkan ke mobil dan dibawa ke RSUD dr Soetomo untuk mendapat perawatan.

Sayang, nyawanya tidak tertolong dan meninggal saat perjalanan ke rumah sakit.

Lulusan terbaik Akademi Kepolisian (Akpol) 1995 tersebut mengatakan, tersangka tergolong bandit sadis.

Dia tidak peduli kondisi korbannya saat beraksi. Bahkan, ada salah seorang korban yang terluka karena terjatuh dari motor akibat tasnya ditarik.

Berdasar catatan kepolisian, tersangka sudah lima kali beraksi di beberapa lokasi berbeda. Namun, tersangka selalu beraksi seorang diri.

''Ini termasuk pelaku yang nekat. Tapi, walaupun seorang diri, tersangka ini tergolong sadis,'' ucapnya.

4 dari 4 halaman

Sandi menegaskan tidak ada ampun bagi pelaku kejahatan 3C (curat, curas, dan curanmor) di Surabaya. Anggotanya sudah diperintah untuk menindak tegas para pelaku yang nekat beraksi di wilayah Surabaya.

''Ini Surabaya, jangan main-main. Jangan membuat ulah kalau tidak mau ditembak,'' tegasnya.

Mantan Kapolres Bandung itu menyatakan, kejahatan 3C mendapat atensi penuh dari kepolisian. Anggotanya sudah diperintah untuk mengejar dan menangkap para pelaku lain yang kerap meresahkan masyarakat.

''Kami ingin memberikan rasa aman dan nyaman kepada warga Surabaya. Jangan sampai ada yang merusak situasi yang sudah kondusif ini,'' tandas mantan Wadirreskrimsus Polda Metro Jaya tersebut. (adi/c19/git/jpnn)

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...