Dua Sinyal dari Presiden Jokowi untuk Megawati, Maknanya Cukup Dalam

Dua Sinyal dari Presiden Jokowi untuk Megawati, Maknanya Cukup Dalam
Diskusi 'Membaca Arah Tusukan Pidato Mega' di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (10/8). Foto: Aristo Setiawan/jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Ali Munhanif menilai Presiden Jokowi mengirim dua sinyal politik ketika hadir di kongres kelima PDI Perjuangan di Bali, Kamis (8/8).

Sinyal pertama ditunjukkan Jokowi dengan tidak mengenakan seragam PDI Perjuangan saat menghadiri kongres. Padahal, Jokowi merupakan kader dari partai berlambang banteng moncong putih itu.

"Berbeda dengan yang lain, Jokowi memakai baju daerah meski berwarna merah, warna partai, dia tidak mengenakan seragam partai," kata Ali saat ditemui di acara diskusi 'Membaca Arah Tusukan Pidato Mega' di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (10/8).

Kedua, Jokowi juga mengirim sinyal lain ketika berpidato di kongres PDI Perjuangan. Terutama ketika Jokowi menjawab pernyataan Megawati yang akan menolak jika PDIP hanya mendapat empat kursi di kabinet. Jokowi mengatakan, jika partai lain dapat dua kursi menteri, dementara PDIP empat kursi, berarti sudah dua kali lipat.

BACA JUGA: Permintaan Bupati Puncak kepada Presiden Jokowi

"Dia (Jokowi) bilang, ketika partai lain dapat dua, PDI Perjuangan dapat empat. Kemudian dia melanjutkan, seandainya partai lain dapat tiga, ketika massa yang hadir menjawab enam, Jokowi justru bilang belum tentu," ucap Ali.

Menurut Ali, sinyal-sinyal tersebut menandakan Jokowi ingin otonom ketika menyusun menteri di kabinetnya pada periode kedua memimpin Indonesia. Jokowi ingin menunjukkan bahwa urusan menteri merupakan hak prerogatif presiden.

BACA JUGA: Jokowi Berpotensi Korbankan Janji Politik Jika Kabulkan Keinginan Megawati

Presiden Jokowi dengan tidak mengenakan seragam PDI Perjuangan saat menghadiri kongres V PDIP di Sanur, Bali.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News