JPNN.com

Eka Tjipta

Oleh Dahlan Iskan

Senin, 28 Januari 2019 – 05:50 WIB Eka Tjipta - JPNN.com

Sisanya ditabung. Ingin sekolah ke Tiongkok. Atau ke Hong Kong.

Sambil mencari tambahan tabungan itu ia ikutkan arisan tender. Caranya: siapa yang mau memberi bunga tertinggi yang menang.

Belum ada deposito waktu itu. Orang seperti Eka tidak akan bisa diterima bank.

Tahun 1941 Jepang masuk Makassar. Keadaan kacau. Ekonomi hancur. Tabungan itu hilang bersama yang menang tender.

Itulah kejatuhan pertama Eka. Masih remaja sudah merasakan ludes. Ia pun tidak tahu apa yang bisa dikerjakan. Di zaman perang seperti itu. Ia lebih banyak bermain di pantai Losari.

Saat duduk-duduk di bebatuan itulah ia kaget. Ada truk tentara yang membuang sampah. Di tanah tidak jauh dari pantai.

Sampah itu bukan sembarang sampah. Tetapi reruntuhan bekas perang. Barang-barang dari gudang yang terbakar: besi, kayu, karung-karung terigu, karung semen, seng dan sebagainya.

Tiap hari truk itu membuang rongsokan ke situ. Eka berpikir semua rongsokan itu bisa jadi uang. Tetapi bagaimana mengangkutnya. Uangnya habis. Tabungannya ludes.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...