Enam Keputusan untuk Bali

Enam Keputusan untuk Bali
Enam Keputusan untuk Bali
Maka ketemulah jalan keluar untuk mengatasi kemacetan proyek ini: “kawin!” Tiga bulan lagi proyek ini harus berjalan. Saya membayangkan betapa sulitnya Bali kalau proyek ini macet. Begitu PLTG Gilimanuk berhenti, sepertiga Bali padam!

Keputusan kelima saya ambil mendadak kemarin pagi. Pagi itu saya lagi makan pagi di Ubud bersama GM Distribusi Bali Dadan Kurniadipura, GM Indonesia Power (anak perusahaan PLN), Antonius Reseptyas Artono dan stafnya. Sambil menunggu keberangkatan ke Istana Tampak Siring saya ingin mendapat gambaran Bali ke depan.

Astaga! Antonius melaporkan bahwa bulan Juli nanti PLTG Gilimanuk harus berhenti beroperasi.“Sudah tiba waktunya untuk pemeliharaan,” ujar Antonius. Saya langsung menaruh sendok saya. Apa? Berhenti? Gilimanuk yang punya kekuatan sepertiga Bali itu harus berhenti? Bulan Juli?

Saya langsung membayangkan sepertiga Bali akan padam. Akan geger lagi. Baru dua bulan ini Bali menikmati kecukupan listrik meski pas-pasan, sudah akan sengsara lagi. Apa kata dunia?

DI sela-sela acara retreat tiga hari di Istana Tampak Siring, Bali (Senin-Rabu) ini  saya sempat “mencuri” waktu melihat proyek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News