Fahri Hamzah: Saya Tak Mau Agungkan Sopan Santun

Fahri Hamzah: Saya Tak Mau Agungkan Sopan Santun
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Foto: dokumen JPNN.Com

jpnn.com - JAKARTA - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menuding keputusan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memecatnya dari keanggotaan merupakan tindakan tanpa dasar. Alasannya, bekas wakil sekretaris jenderal PKS itu tak pernah melanggar hukum dan etika.

Fahri mengatakan, dirinya bergabung dengan PKS benar-benar dari bawah. Mulai dari pemula, anggota muda, madya, dewasa hingga anggota ahli.

Tapi, tiba-tiba ia dipecat dari seluruh jenjang keanggotaan. Padahal bekas ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) itu bahkan ikut membesarkan PKS ketika masih bernama Partai Keadilan.

"Bergabung dari gerakan yang memelopori reformasi 18 tahun lalu, langsung dihapus semua keanggotaan saya. Dipecat total. Seberat apa dosa saya. Saya tak pernah korupsi, tak senonoh, melanggar hukum dan etika," ujarnya dalam konferensi pers di gedung DPR Jakarta, Senin (4/4).

Bila gaya berbicaranya yang dipersoalkan, kata Fahri, maka hal itu sama saja kembali masa kegelapan. Ia sampai tak habis pikir karena dipecat dari keanggotaan PKS.

"Saya ingin PKS partai penuh persaudaraan. Saya berdialog dengan tone longgar, saya tak punya tradisi menjilat-jilat. Saya tak mau mengangungkan sopan santun dalam menyampaikan kebenaran. Sebagian orang menganggap ini teror," tegasnya.

Fahri menambahkan, elite PKS memberhentikannya merupakan hal tidak lazim. Sebab, dalam UUD seseorang tak boleh ditindak dengan hukum berlaku surut. Apalagi keputusan dibuat setelah tindakan dikumpulkan, baru aturannya yang dibuat.

"Sohibul Imam (presiden PKS, red) menandatangani pemecatan tanpa sekjen. Membentuk penyidik dan penyelidik lalu jadi hakim. Ini luar biasa. Hukum positif ini pengadilan sesat," pungkasnya.(fat/jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News