Fajar Sadboy & Pengemis Digital

Oleh Dhimam Abror Djuraid

Fajar Sadboy & Pengemis Digital
Seorang ibu warga Desa Setanggor, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang mandi lumpur untuk mengisi konten live di TikTok demi menghasilkan donasi digital. Foto: TikTok/ @intan_komalasari92

Namun, keinginan Fajar untuk bunuh diri digagalkan temannya. Sejak itu videonya viral dan Fajar mendadak terkenal.

Popularitas Fajar dan nenek mandi lumpur tidak terlepas dari pengaruh media sosial dan media massa. Fenomena ini menjadi daya tarik tersendiri bagi media.

Di era disrupsi digital ini, banyak media yang menangkap sebuah peristiwa yang berpeluang trending, lalu mereproduksi dengan kemasan tertentu untuk dikonsumsi publik.

Kemiskinan di dunia maya ternyata ada paralelnya dengan kemiskinan di dunia nyata. Sebuah laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tercatat sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa.

Hal ini berdasarkan data BPS per September 2023. Angka kemiskinan Yogyakarta tercatat sebesar 11,49 persen. Persentase kemiskinan itu berada di atas rerata nasional, yaitu 9,57 persen.

Ada ironi dan anomali pada data statistik itu. Yogyakarta terkenal sebagai daerah destinasi wisata paling top di Indonesia bersama Bali.

Oleh karena itu, menjadi mengherankan jika wilayah daerah berstatus istimewa itu mempunyai orang miskin tertinggi di Jawa.

Yogyakarta juga terkenal sebagai punjer-nya Jawa, episentrum budaya Jawa karena di sana terletak kerajaan Islam Jawa yang masih tetap eksis sampai sekarang. Budaya Jawa yang submisif membuat orang Yogya bisa lebih menikmati hidup, meskipun kondisinya melarat.

Fenomena mandi lumpur di platform digital adalah produk disrupsi digital. Mengemis dan mengeksploitasi kemiskinan bukan lagi aib, tetapi menjadi hiburan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News