Fajar Sadboy & Pengemis Digital

Oleh Dhimam Abror Djuraid

Fajar Sadboy & Pengemis Digital
Seorang ibu warga Desa Setanggor, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang mandi lumpur untuk mengisi konten live di TikTok demi menghasilkan donasi digital. Foto: TikTok/ @intan_komalasari92

Yogyakarta adalah kota pelajar dengan banyak universitas yang menjadi jujugan para mahasiswa. Banyaknya pendatang baru menjadikan gap ekonomi yang cukup lebar.

Sekarang banyak perguruan tinggi di Yogyakarta yang memasang tarif makin tinggi. Harga tanah dan properti di Yogya sudah selevel dengan Jakarta.

Para pendatang baru memiliki kondisi ekonomi yang lebih mapan daripada rata-rata orang Yogyakarta yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian. Sebagian besar rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian adalah rumah tangga miskin.

Selain miskin, profil usianya juga banyak diisi oleh usia non-produktif. Ironinya ialah dalam kondisi yang miskin, masyarakat Yogya ternyata paling bahagia.

Data dari Center of Economic and Law Studies (Celios) mengungkapkan hal itu. Salah satu penyebabnya adalah budaya lokal yang disebut  ’nerimo ing pandum, sak dermo ngelampahi’ atau menerima apa yang menjadi jatahnya dan menjalani apa yang harus dijalani.

Artinya, menerima kondisi apa pun yang dialaminya. Budaya ini bersifat permisif dan submisif terhadap kemiskinan, karena meyakini bahwa kemiskinan adalah pemberian Tuhan yang harus diterima dengan ikhlas.

Sisi positif dari budaya ini adalah timbulnya resiliensi atau ketabahan terhadap penderitaan karena adanya keyakinan religius. Negara-negara religius seperti India, Pakistan, atau Nepal memakai alasan religius untuk menerima kondisi yang ada.

Kebahagiaan tidak diukur dari pemenuhan kebutuhan material, tetapi lebih pada pemenuhan kebutuhan spiritual. Miskin adalah bagian dari jalan hidup yang harus dilakoni dengan dignity, kebesaran dan kehormatan jiwa.

Fenomena mandi lumpur di platform digital adalah produk disrupsi digital. Mengemis dan mengeksploitasi kemiskinan bukan lagi aib, tetapi menjadi hiburan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News