Gangga Risma

Oleh Dahlan Iskan

Gangga Risma
Foto: disway.id

Banyak juga kuil Hindu di pinggir sungai ini. Menghadap ke sungai. Membelakangi gang tikus.

Setelah matahari tinggi saya meninggalkan Gangga. Selebihnya tinggal atraksi turis. Yang tidak peduli keutamaan waktu ke Gangga. Yang adalah menjelang matahari terbit. Atau sesaat sebelum matahari tenggelam.

Saya orang yang pernah hidup di kampung tepian Sungai Mahakam. Di Karangasam Samarinda. Sebelum mendapat wanita yang sekarang menjadi istri saya.

Saya sudah biasa melihat pemandangan sungai besar seperti itu. Mandi pun di atas kayu terapung yang diikat di pinggir sungai. Di situ pula toiletnya.

Bedanya, pinggiran sungai Gangga di Varanasi ini curam. Tidak perlu ada jembatan kayu menuju batang kayu yang diikat tadi.

Sepanjang pinggiran sungai Gangga sudah dibeton. Dengan mutu beton seadanya. Yang penting tidak becek.

Trap-trap tangganya juga tidak seragam. Tiap mulut gang punya trapnya sendiri --menuju tempat perahu parkir.

Di beberapa tempat trap itu sampai ke dalam air. Banyak orang menceburkan diri di trap seperti itu. Tidak harus menyeberang ke bagian yang dangkal tadi.

Hanoman ternyata dewa yang terfavorit di kalangan laki-laki. Dalam perjalanan menuju Kuil Hanoman ini pikiran saya melayang ke Surabaya: mengapa Varanasi tidak mengangkat Bu Risma sebagai wali kotanya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News