Gegara Alat Rapid Tes Corona Tidak Akurat, Satu Banjar di Bali Sempat Diisolasi

Gegara Alat Rapid Tes Corona Tidak Akurat, Satu Banjar di Bali Sempat Diisolasi
Sampel virus corona yang diperlihatkan oleh salah seorang dokter. Foto: ANTARA

jpnn.com, DENPASAR - Pemerintah Provinsi Bali menghentikan penggunaan alat rapid test virus corona dengan merek VivaDiag. Pasalnya, ada indikasi produk asal Tiongkok tersebut tidak akurat.

"Sementara ini rapid test tersebut kami tarik dan diganti dengan yang lain," tutur Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya.

Untuk diketahui, beberapa waktu lalu salah satu banjar di Bali diisolasi lantaran sekitar 443 dari 1.210 warganya dinyatakan positif oleh perangkat rapid test VivaDiag. Namun, ketika diuji ulang menggunakan PCR, sebagian besar dari mereka ternyata negatif.

Menurut Suarjaya, Pemprov Bali membeli 4 ribu unit alat rapid test yang dijual oleh PT Kirana Jaya Lestari tersebut. Namun, kini pihaknya masih menunggu arahan dari Kemenkes mengenai penggunaan lebih lanjut VivaDiag.

"Kemenkes nantinya yang akan membahas ini dengan sampel dari rapid test yang kita beli itu, kenapa ada perbedaan. Nanti Kemenkes yang akan membahasnya apakah itu akurat atau tidak," ujar Suarjaya.

Yang pasti, lanjut Suarjaya, pembelian VivaDiag dilakukan karena merek itu tercantum di laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional sebagai salah satu alat yang direkomendasikan.

Dalam daftar rekomendasi rapid diagnostic test (RDT) antibodi Covid-19 per 21 April 2020, merek VivaDiag berada pada urutan ke-13. Alat tes tersebut diproduksi oleh VivaChek Biotech (Hangzhou) Co., Ltd dan diimpor oleh PT Kirana Jaya Lestari.

BNPB juga memberikan rekomendasi pembebasan bea masuk dan pajak impor terhadap PT Kirana Jaya Lestari, yang tertuang dalam surat rekomendasi tertanggal 31 Maret 2020. Perusahaan tersebut mengimpor rapid test VivaDiag sebanyak 900 ribu unit. (dil/jpnn)

Pemerintah Provinsi Bali menghentikan penggunaan alat rapid test virus corona dengan merek VivaDiag. Pasalnya, ada indikasi produk asal Tiongkok tersebut tidak akurat.


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News