Geliat Lokananta, Studio Musik Pertama Indonesia, untuk Bertahan Hidup

Andalkan Kapur Barus-Kopi untuk Lindungi Piringan Hitam

Geliat Lokananta, Studio Musik Pertama Indonesia, untuk Bertahan Hidup
Foto: JPPhoto
Koleksi-koleksi itu kini masih dalam kondisi baik. Meskipun, kleksi-koleksi tersebut disimpan dengan perawatan seadanya. Yakni, hanya dilindungi kapur barus dan bubuk kopi di sekitar area piringan hitam diletakkan.

 

"Itu berguna untuk mengusir binatang. Sebenarnya jauh dari kondisi ideal yang harus dijaga dalam suhu tertentu. Tapi, yang dipakai untuk bayar listrik AC-nya itu apa," kata Pendi, lantas  tertawa.

 

Ya, nasib Lokananta kini sebagai perusahaan musik milik negara bisa dibilang memang tidak terlalu baik. Praktis, efeknya juga dirasakan Pendi dan 17 karyawan yang bekerja di tempat tersebut. Status mereka tidak jelas.

 

"Ya, kalau boleh dikatakan, statusnya itu hanya pegawai lokal. Bukan pegawai BUMN atau bahkan pegawai negeri," jelasnya.

 

Kehadiran sejumlah musisi dan band top tanah air untuk rekaman cukup membantu Lokananta bernapas. Untuk menambah dana, lahan kosong pun dimanfaatkan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News