Gereja Bar

Oleh Dahlan Iskan

Gereja Bar
Dahlan Iskan di Stadion Anfield, Liverpool. Foto: disway.id

"Ini hadiah ulang tahun terindah bagi saya," kata Billy ke media di Liverpool. "Saya sampai bergetar dan bingung," tambahnya. "Mane adalah pujaan saya," kata Billy lagi.

Hari itu Billy nonton bersama bapaknya. Jatah Billy hanya tiga kali setahun nonton langsung di stadion.

Hari itu Mane cetak gol dua kali. Moh Salah satu. Liverpool menang 3-1 lawan Newcastle.

Namun Liverpool kalah dari Chelsea. Soal lokasi stadionnya.

Untung hari itu saya tidak naik subway. Letak stadion Chelsea benar-benar strategis: di mulut stasiun kereta bawah tanah. Mulutnya buaya. (Adakah yang lebih panjang dari mulut buaya?).

Letak stadion Liverpool FC begitu jauh dari stasiun. Mungkin 2.000 buaya disambung-sambung pun masih kurang panjang. Dari stasiun itu masih perlu jalan kaki 40 menit.

Namun banyak juga yang pilih naik kereta bawah tanah. Saya membayangkan begitu pulalah suporter Bonek. Yang banyak juga harus jalan kaki. Jauh sekali. Sejak dari pertigaan Jalan Veteran di Kabupaten Gresik. Ke stadion Gelora Bung Tomo di wilayah Surabaya Barat. Yang di tengah tambak garam itu.

Untung, saya tadi naik bus. Turunnya tepat di mulut buaya --bahkan di gigi taringnya.

Liverpool di mata saya adalah hasil sukses dari sebuah sakit hati. Jangan lupa: banyak orang sukses dengan dorongan sakit hati seperti itu.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News