Gunung Kawi

Oleh: Dahlan Iskan

Gunung Kawi
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

Jalan dari tempat parkir menuju kelenteng memang masih harus lewat gang itu, tetapi tidak ada lagi yang kaki lima di sepanjang lorong itu. Juga sudah terlihat tertata dan bersih.

Baca Juga:

Selama Kawi tutup akibat Covid-19, Yana melakukan pembenahan. Ia bangun toko-toko permanen di sepanjang jalan dekat gapura itu. Juga di gang itu.

Semua pedagang kaki lima dimasukkan ke toko-toko baru itu.

Itulah yang membuat Yana menguras tabungannya. Juga menjual 3,5 hektare tanahnya di luar kompleks kelenteng ini. Toko-toko itu boleh ditempati pedagang kaki lima secara gratis.

"Mereka kan penduduk asli di sini. Tidak mungkin kuat bayar sewa," ujar Yana.

Hanya saja kemampuannya membangun toko permanen itu hanya sepertiga dari jumlah pedagang. Maka dilakukan musyawarah dengan seluruh pedagang kaki lima.

"Akhirnya kami sepakati satu toko dipakai tiga orang," ujar Yana.

Cara pakainya diserahkan ke masing-masing kelompok tiga orang itu. Ada yang gantian hari. Ada juga yang memanjang dagangan secara bersama.

Anda mungkin lebih tahu mengapa Gunung Kawi lantas bertransformasi menjadi lambang tempat berdoa untuk menjadi kaya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News