Hakim Ditangkap Lagi, Maruarar: Pengawasan MA Kurang Ketat

jpnn.com, JAKARTA - Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI) Maruarar Siahaan mengatakan, adanya kasus dugaan suap yang melibatkan Ketua Pengadilan Tinggi Manado, Sulawesi Utara, Sudiwardono menandakan pengawasan peradilan oleh Mahkamah Agung lemah.
“Kalau saya katakan tidak ketat, pastilah, kan longgar itu,” kata Maruarar usai sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (8/10).
Mantan hakim Mahkamah Konstitusi (MK) itu juga mempertanyakan apakah MA punya suatu sistem monitoring terhadap para hakim.
Misalnya, untuk mengevaluasi, mengikuti, menilai dan memberikan pertimbangan sepak terjang hakim saat menjalani persidangan dan putusan yang dihasilkan.
Dia mengingatkan, kepatuhan kepada hukum acara menjadi suatu indikator utama. Nah, kata dia, kalau hakim berpengalaman tapi bisa melanggar hukum acara itu tentu menjadi pertanyaan.
“Kalau ada penyimpangan hukum acara menjadi pertanyaan apakah itu sengaja atau tidak. Tapi, kalau hakim sudah berpengalaman melanggar hukum acara, itu pasti sengaja, kan?” ujarnya.
Menurut Maruarar, maklumat yang belum lama dikeluarkan Ketua MA Hatta Ali belumlah cukup untuk mencegah perilaku hakim. Menurut dia, maklumat hanya sekadar pengumuman saja. Karena itu, dibutuhkan sistem pengawasan yang baik.
“Kalau hanya maklumat, anda melakukan hal ini itu, bagaimana cara mengetahuinya?” kata dia.
Maruarar Siahaan mempertanyakan apakah MA punya suatu sistem monitoring terhadap para hakim.
- Penegak Hukum Harus Ungkap Semua Perkara yang Diatur Zarof Ricar
- 2 Hakim Ini Diperiksa Kejagung terkait Kasus Suap Rp 60 Miliar
- Kasus Direktur Jak TV Baru Pertama Terjadi, Saat Konten Dikriminalisasi
- Hakim Tersangka Suap Sembunyikan Rp 5,5 Miliar di Kolong Kasur, MA Kena Sentil
- MA Rombak Posisi Hakim, Pimpinan DPR Singgung Pengawasan yang Perlu Ditingkatkan
- Kecam Kasus Suap Hakim, Pedemo Bawa Spanduk Bertuliskan Mahkamah Amplop ke MA