Hamidah dari Sekolah ke Rumah Jalan Kaki 3 Jam, Tetap Semangat

Hamidah dari Sekolah ke Rumah Jalan Kaki 3 Jam, Tetap Semangat
Dengan berjalan kaki, Singare (kiri) mendampingi putrinya, Hamidah menuju Sekolah Tapal Batas MI Darul Furqan, Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, Nunukan, Kaltara. Foto: ERIK ALFIAN/KALTIM POST

Dia menyebut, pengendara truk sedang dalam pengaruh minuman keras sehingga tak bisa mengendalikan laju kendaraan. Lantas menabrak dia dan sang adik.

Raut wajahnya masih penuh semangat. Meski dengan sedikit malu, gadis yang kini duduk di bangku kelas 4 ini tetap meladeni wawancara.

Hamidah mengaku lupa tanggal pasti kejadian. Hanya dia ingat, hari itu dirinya bersama si bungsu tengah berencana menunaikan Salat Asar di musala dekat rumah. Ketika tiba-tiba saja sebuah truk menabrak keduanya.

“Sopirnya mabuk, jadi nyetirnya ugal-ugalan,” kata gadis yang akrab disapa Midah ini dengan mata berkaca-kaca.

Kejadin itu dikatakan Singare, ibunda Midah, terjadi di Pinrang, Sulawesi Selatan, sebelum dia memutuskaan pindah ke Sebatik.

Pengemudi, lanjut dia, memang membiayai seluruh biaya pengobatan. Bahkan sempat mendekam di dalam sel selama kurang lebih 4 tahun.

Hanya saja, kehilangan adik putri dan cacat seumur hidup yang harus ditanggung Midah membuat dia begitu sedih. “Hampir saja itu pengemudi dipukuli keluarga saya,” kata dia.

Jika mengingat masa lalu itu, Hamidah mulai tampak sedih. Air mukanya mendadak berubah murung. Traumanya seperti belum sepenuhnya pulih.

Hamidah punya semangat tinggi untuk menuntut ilmu. Tinggal di perbatasan dengan fasilitas serba terbatas, tak menyurutkan langkahnya.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News