Haus Kerongkongan

Oleh: Dahlan Iskan

Haus Kerongkongan
Dahlan Iskan. Foto: disway.id

Di sini pemilik dana obligasi bisa memainkan bunga. Dana bisa saja tetap tersedia –asal bunganya tinggi.

Tahap dua itu pun ada batasnya: sampai obligasi itu jatuh tempo. Begitu perusahaan terbukti gagal bayar obligasi pilihannya tinggal pada satu lubang: menerbitkan obligasi baru dengan bunga lebih tinggi lagi.

Perkiraan saya, merosotnya kinerja keuangan mereka sebagian besar akibat kemakan bunga tinggi.

Sebenarnya masih ada jalan lain: right issue di pasar modal --menambah jumlah saham yang dijual ke publik. Tapi BUMN punya batasan: tidak boleh menjual saham ke publik melebihi 50 persen - -takut mayoritasnya jatuh ke asing.

Rasanya semua BUMN infrastruktur kini sudah mentok di limit itu. Dengan demikian right issue bukan termasuk pilihan lagi.

Sebenarnya masih ada sumber dana lain. Murah sekali. Tapi dana itu justru sudah lebih dulu dipakai: yakni dana dari sub kontraktor. Inilah sumber dana tersembunyi yang penting sekali.

Jarang yang menyadari ini: ketika sub-kontraktor tidak kunjung dibayar maka sebenarnya mereka itulah sumber dana terdepan BUMN infrastruktur.

Dan mereka itulah yang kini lebih menjerit dari BUMN itu sendiri. Itu karena sub kontraktor adalah perusahaan yang modalnya lebih kecil. Dan lagi, sub kontraktor itu juga mengambil materialnya dari perusahaan yang lebih kecil lagi. Ujung-ujungnya yang paling kecil itulah yang paling menderita.

Semoga SWF segera jalan. Dan dana dari Amerika, Uni Emirat Arab, Jepang dan Kanada itu segera masuk.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News