Hoki Irwan

Oleh Dahlan Iskan

Hoki Irwan
Dahlan Iskan. Foto: Ricardo/JPNN.com

Tentu saya setuju: ada unsur kebetulan di situ. Namun seandainya si wartawan tidak rajin keliling kota mencari berita apakah ia akan mendapatkan keberuntungan itu? Seandainya ia hanya di kantor menghadapi komputer apakah akan bisa menemukan kejadian itu?

Itulah yang saya maksud dengan hoki yang diupayakan.

Pak Irwan masih belum bisa menerima. Ia tidak seperti itu. Ia mengaku bukan orang yang rajin. Tubuhnya pun bukan tubuh yang kuat dan energetik.

Saudara-saudaranya punya tubuh yang tinggi. Ada yang 175 cm, ada yang 179 cm. Ia hanya 168 –seperti saya.

Pun waktu bayi. Ia sakit-sakitan tiada henti. Sakit apa saja pernah ia alami. Istilah modern sekarang disebut stunting.

Karena itu ketika usia Pak Irwan baru tiga bulan, masih bayi, sudah diberikan ke ''orang lain''. Untuk diambil anak. Dengan kepercayaan agar tidak sakit-sakitan lagi.

''Orang lain'' itu adalah neneknya sendiri. Jadilah Irwan anak neneknya.

Semua itu karena sang ibu punya banyak anak: 9 orang. Irwan anak ke-7. Tiap tahun ibunya melahirkan. Saat Irwan berumur tiga bulan itu sang ibu sudah hamil lagi.

Bos Sido Muncul ngotot bahwa keberhasilannya selama ini benar-benar semata karena hoki. Tidak ada yang lain. Juga bukan karena kerja keras.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News