Honorer K2: Apakah Kami Harus Mengadu ke Ibu Megawati?

Honorer K2: Apakah Kami Harus Mengadu ke Ibu Megawati?
Para honorer K2 saat mengadu ke Senayan, Rabu (6/12). Foto: Mesya Mohammad/JPNN.com

jpnn.com - Para honorer kategori dua (K2) tidak pernah mendapat kepastian kapan mereka akan diangkat menjadi CPNS.

Belasan hingga puluhan tahun waktu, tenaga, dana, dan pikiran sudah dihabiskan untuk mengabdi, dengan honorer bulanan yang sangat minim.


----

RAMBUT putih, kerutan wajah, dan gigi yang mulai ompong menjadi bukti otentik sudah begitu lamanya pengabdian sebagian honorer K2.

Dengan gaji Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu mereka tetap bertahan di daerah pengabdiannya.

Kondisi ini mungkin sulit bila dialami rekrutmen guru zaman now. Disuguhi dengan beragam fasilitas pun masih banyak yang menolak menjadi guru garis depan (GGD).

Lihat saja data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dari kuota CPNS 2016 untuk GGD sebanyak 7000 orang, yang mendaftar hanya 6000an orang.

Tak heran bila 439 ribu honorer K2 cemburu. Mereka kesal mengapa pemerintah memilih merekrut guru-guru baru.

Tak heran bila 439 ribu honorer K2 cemburu. Mereka kesal mengapa pemerintah memilih merekrut guru-guru baru.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News