Ilhan Omar, Rasmus Paludan, dan Borok Demokrasi Barat

Oleh Dhimam Abror Djuraid

Ilhan Omar, Rasmus Paludan, dan Borok Demokrasi Barat
Politikus sayap kanan Swedia Rasmus Paludan membakar Al-Qur'an sebagai bentuk protes dan ungkapan kebebasan bereskpresi. Foto: REUTERS

Namun, Kongres AS meyikapi Omar dengan melakukan PAW (pergantian antar-waktu) terhadapnya. Pada sidang pleno Kamis (2/2), House of Representatives Amerika Serikat dari Partai Republik berhasil mengeluarkan Omar.

Omar yang sehari-hari memakai hijab merupakan politikus Partai Demokrat yang lebih menghargai dan menerima kelompok imigran sebagai bagian dari kebhinekaan Amerika.

Namun, Kongres Amerika sekarang dikuasai oleh Partai Republik yang anti-imigran dan anti terhadap orang-orang non-kulit putih.

Sejak Donald Trump menjadi presiden pada 2019, politik Amerika menjadi rasis dan diskriminatif. Program Trump yang disebut  MAGA (make America great again) berusaha merebut supremasi kulit putih dari kelompok minoritas imigran yang tidak berkulit putih.

Dalam voting di Kongres, Omar kalah dengan suara 218-211. Pemecatan Omar itu dipandang oleh Demokrat sebagai balas dendam atas pemungutan suara mereka pada 2021.

Ketika itu mayoritas Kongres terisi oleh anggota Demokrat dan mencopot Marjorie Taylor Greene dan Paul Gosar yang merupakan polisisi Partai Republik dari tugas komite setelah pernyataan yang menghasut.

Pada 2021, Greene membandingkan persyaratan masker dan vaksinasi Covid-19 dengan Holocaust ala Nazi yang menewaskan enam juta orang Yahudi. Dia akhirnya meminta maaf.

Sebelum pemilihannya di Kongres 2020, dia menyuarakan teori konspirasi, termasuk klaim antisemitisme yang menyatakan bahwa laser luar angkasa mungkin digunakan untuk dengan sengaja memulai kebakaran hutan di California.

Ada dua kejadian di panggung politik internasional yang menunjukkan Eropa dan Amerika bersikap diskriminatif terhadap Islam.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News