In Memoriam Nien Lesmana

In Memoriam Nien Lesmana
Nien Lesmana di sampul album piringan hitam. Foto: Public Domain.

Jika ada yang bilang sejarah industri musik Indonesia dipelopori Lokanta, itu tidak benar. Pada akhir 1920, sudah ada Thio Tek Hong di Batavia. 

Bila rujukannya sejak Indonesia merdeka, maka yang pertama adalah Irama Record, milik Suyoso Karsono, kakak kandung Nien Karsono, seorang biduanita kenamaan pada zaman revolusi belum selesai.

Titiek Puspa gamang. Namun, "Nien Lesmana dan pihak RRI meyakinkan saya. Maka terjadilah rekaman itu," Titiek Puspa bernostalgia.

"Nien Lesmana, yang saya panggil Yuk Nien, cukup sabar menghadapi saya. Ia memberi kesempatan pada saya untuk mempelajari sejumlah lagu baru yang harus saya nyanyikan," sambungnya.

Ada kejadian yang membekas di ingatan Titiek Puspa saat rekaman perdana di Irama Record. Kejadian yang membuat nyalinya ciut.

Yakni saat menyanyikan Jakarta di Waktu Malam, lagu Melayu dengan melodi dan permainan cengkok yang cukup rumit.

"Berkali-kali rekaman, suara dan cengkok saya meleset dari yang dikehendaki. Tak urung, saya harus berkali-kali mengulang. Makin gagal, makin deras keringat saya…untungnya Nien dan abangnya sabar sekali."

Namun, kata Titiek, di studio ada beberapa penyanyi yang sedang antre rekaman. Melihat tragedi itu, ada yang mencemooh, "belum bisa menyanyi kok berani-beraninya rekaman! suruh pulang kampung saja…"

NIEN Lesmana ibunya Indra Lesmana, juga Mira Lesmana. Dialah yang pertama mengajak Titiek Puspa masuk dapur rekaman, dan kemudian menjadi penyanyi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News