Ini Alasan Kemenpar Gunakan ‘Bali’ untuk 10 Destinasi Baru

Ini Alasan Kemenpar Gunakan ‘Bali’ untuk 10 Destinasi Baru
Menpar Arief Yahya. Foto: dokumen JPNN

Jadi tidak menjadikan 10 destinasi itu menjadi Bali? "Haha.. Yg seperti Bali itu, jumlah wismannya, nilai devisanya, kreativitasnya, hospitalitynya, pertumbuhan ekonominya. Soal atraksi? Ya harus mengikuti akar budaya masyarakatnya. Dan itu tidak mungkin disamakan dengan Bali, masing-masing punya keistimewaan," jelasnya. 

Contohnya Mandalika Lombok. Di sana lebih bernuansa halal tourism, karena brand Lombok sudah tercipta sebagai world best halal destination. Di Belitung lain lagi, begitupun lokasi 10 prioritas yang sering disebut "Bali-Bali" baru itu. 

Tapi apa mungkin, menciptakan ekosistem pariwisata baru seperti Bali, dalam waktu cepat? Bali menjadi seperti sekarang ini butuh ratusan tahun? "Kalau Pak Presiden Jokowi sudah memberi arah ke sana, tidak ada pilihan lain kecuali "bisa" dan "sangat bisa." Semua progres, semua running. Lima titik akan direvitalisasi, tiga titik Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata, dua titik pendatang baru," ungkap dia. 

10 Destinasi Prioritas itu adalah Toba Sumatera Utara, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Pulau Seribu Jakarta, Borobudur Jateng, Bromo Jatim, Mandalika Lombok, Labuan Bajo Komodo, Wakatobi Sultra dan Morotai Maltara.(ray/jpnn)



Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News