Jangan Melakukan Tes Antigen Sendiri ya, Berbahaya

Jangan Melakukan Tes Antigen Sendiri ya, Berbahaya
Ilustrasi - Petugas medis melakukan tes usap atau swab test. Foto: Ricardo/JPNN

jpnn.com, BANDAR LAMPUNG - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bandarlampung mengimbau masyarakat tidak melakukan rapid test antigen sendiri guna mengetahui apakah mereka positif atau negatif COVID-19.

"Saya tidak menganjurkan warga melakukan rapid test antigen sendiri, karena hal itu sangat berbahaya bila tidak hati-hati," kata Ketua IDI Cabang Bandarlampung, dr Aditya M Biomed, di Bandarlampung, Minggu (1/8).

Dikatakan, bila ingin melakukan tes antigen sebaiknya dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya sebab tulang hidung merupakan tulang rawan dan di dalamnya banyak saraf arteri yang apabila tidak hati-hati melakukannya dapat menimbulkan pendarahan.

"Tulang hidung itu tulang rawan kalau dicolok-colok sama yang bukan ahlinya apalagi kualitas swabnya jelek atau keras bisa bikin lecet dan efeknya akan terjadi pendarahan," kata dia.

Kemudian, lanjut dia, yang paling penting, siapa yang akan menginterpretasikan bahwa hasil swab sendiri positif COVID-19 atau negatif. Bahkan dalam alat tes antigen itu juga terdapat indikasi positif dan negatif serta invalid.

"Jadi memang menggunakan rapid tes tidak semudah yang dilihat sebab hal itu ada waktunya, tidak bisa langsung diteteskan lalu membaca hasilnya, sehingga memang yang melakukan harus mereka yang terlatih kalau masyarakat umum kan memang bukan bidangnya," kata dia.

Dokter Aditya menjelaskan bahwa pemeriksaan rapid tes antigen merupakan penunjang guna dilanjutkan ke tes polymerase chain reaction (PCR).

Namun hal tersebut dilakukan bagi kontak erat dan orang yang memiliki gejala COVID-19.

Dokter Aditya M Biomed mengimbau warga agar tidak melakukan tes antigen sendiri untuk mengetahui positif atau negatif COVID-19.