Rabu, 21 November 2018 – 02:49 WIB

Kemendikbud Dorong TKI di Malaysia Sekolahkan Anak-anaknya

Minggu, 04 November 2018 – 00:45 WIB
Kemendikbud Dorong TKI di Malaysia Sekolahkan Anak-anaknya - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA - Melihat jumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia yang mencapai 2,7 juta orang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendorong para TKI agar menyekolahkan anak-anaknya.

Pemerintah memiliki Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) dan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) serta 294 pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang tersebar di berbagai wilayah negeri jiran itu.

Sekolah-sekolah itu melayani berbagai jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, sekolah menengah atas (SMA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Khusus jenjang SMK hanya ada di SIKK dengan program keahlian jasa boga dan perhotelan. PKBM hanya melayani jenjang SD dan SMP saja.

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Kemendikbud Praptono mengimbau, para orang tua yang bekerja sebagai TKI di Malaysia agar menyadari bahwa dengan menyekolahkan anak-anaknya, kelak bisa mengubah nasib keluarganya.

“Semoga anak-anak Indonesia di Malaysia bisa terlayani pendidikannya dan meraih masa depan yang lebih baik sehingga melalui pendidikan akan memutus rantai kemiskinan dan kebodohan,” ucapnya, Sabtu (3/10)

Orang tua, lanjut Praptono, harus bersinergi dengan sekolah agar cita-cita anaknya tercapai, misalnya dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA/SMK di Indonesia. Antara lain, melalui beasiswa yang disediakan pemerintah seperti Program Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) dan lainnya.

Senada itu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur Malaysia, Ari Purbayanto mengatakan, tugas guru-guru Indonesia yang mengajar di Malaysia tidak hanya membina anak-anak Indonesia agar memiliki semangat Pancasila saja. Mereka juga, lanjut Ari, harus mampu menyadarkan orang tua murid agar mendorong anak-anaknya mengenyam pendidikan.

“Orang tuanya adalah low educated people (orang berpendidikan rendah), dia tidak paham bahwa pendidikan adalah senjata ampuh untuk mengubah nasib mereka,” kata Ari.

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar