Kisah Guru Garis Depan, Berharap dapat Jodoh agar Betah

Kisah Guru Garis Depan, Berharap dapat Jodoh agar Betah
Petrus Purumbawa dan Pabera Tanambewa, dua guru GGD asal Nusa Tenggara Timur. Foto: Mesya Mohammad/JPNN.com

Dia pun berandai-andai bila suatu saat mendapatkan jodoh di Praimahala, dirinya akan menetap dan tidak pindah ke daerah lain.

Lain Petrus dan Pabera, lain pula kisah Arriza Surya Pratiwi. GGD lulusan SM3T angkatan pertama ini ditempatkan di SDN Padasuka 4 Pandeglang, Banten. Oleh Pemkab Pandeglang, Arriza dikontrak 10 tahun.

Mestinya, Arriza tinggal di lokasi terpencil tersebut. Namun, dia memilih tinggal di pinggiran karena anaknya masih bayi. Itu sebabnya perempuan berjilbab ini harus berangkat usai salat Subuh.

"Saya harus melewati hutan, bukit, dan sungai. Untuk ke sekolah saya harus menempuh perjalanan sekitar 30 sampai 45 menit. Sebenarnya kalau tinggal dekat sekolah saya nggak perlu jalan jauh, tapi kasihan bayi saya. Makanya saya cari tempat tinggal dekat puskesmas dan akses transportasi," paparnya. (esy/jpnn)

 


Para guru garis depan (GGD) ini sudah berstatus PNS dan langsung dikirim ke daerah-daerah yang minim fasilitas.


Redaktur : Soetomo
Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News