Minggu, 21 Juli 2019 – 23:47 WIB

Kisah Pilu Risky, Bocah Penderita Hidrosefalus

Rabu, 10 Juli 2013 – 14:06 WIB
Kisah Pilu Risky, Bocah Penderita Hidrosefalus - JPNN.COM

Bocah penderita Hidrosefalus, Siti Risky Barokah. Foto: ist

GARUT - Malang benar nasib Siti Risky Barokah, bocah berusia 1 tahun ini terlahir tidak sempurna, karena menderita Hidrosefalus. Sejak dalam kandungan, dokter sudah mendeteksi Risky mengalami kelainan dan dokter menyarankan segera dilakukan tindakan operasi secepatnya, namun orangtua Riski, yakni Opik dan Siti Hajijah mengalami kesulitan dana.

Maka itu, Opik dan istrinya urung melakukan operasi. Terlebih Opik hanya bekerja sebagai buruh harian lepas yang penghasilannya tidak tentu, sedangkan Siti hanya sebagai ibu rumah tangga.

"Hasil USG sejak dalam kandungan usia 8 bulan, Risky mengalami kelainan," ujar Cece, nenek Risky yang setia menunggui cucunya.

Risky akhirnya lahir dengan operasi cesar dan baru dilakukan tindakan operasi pertama pada usia menginjak 2 bulan. "Seharusnya dari lahir sudah diambil tindakan, namun karena terhalang biaya, baru bisa dilakukan tindakkan usia 2 bulan. Operasinya waktu itu di RS Hasan Sadikin Bandung dan sudah pakai kartu Jamkesmas," terang Cece.

Risky saat ini hanya dirawat dan tinggal dengan neneknya di Kampung Ciranca RT 002 RW 007 desa Padasuka, Cibatu, Garut. Sementara kedua orangtuanya sudah beberapa bulan tidak memunculkan batang hidungnya.

"Risky sudah 3 bulan ini gak ditengokin sama bapak ibunya, bapaknya kerja di daerah Pulo Gebang dagang kopi, biasanya sebulan sekali pulang ke sini, ibunya juga belum ke sini lagi. Alasannya saya juga gak tahu kenapa," kisah Cece.

Agar kepala Risky tidak semakin membesar karena bertambahnya cairan, harus dilakukan operasi sesegera mungkin, yakni dengan memasukan selang dari kepala yang kemudian disambungkan ke perut. Hal itu dilakukan untuk menghindari cairan masuk ke kepala.

Operasi pertama hanya bersifat sementara dan perlu dilakukan operasi lanjutan agar kepala Risky tidak membesar lagi. Namun, hal itu masih terhalang oleh biaya, sementara Jamkesmas yang dulu pernah dipakai sudah tidak berlaku lagi.

"Yang jadi masalah sekarang adalah kartu Jamkesmas yang dipakai sebelumnya sudah tidak berlaku di rumah sakit tersebut. Jadi Risky tidak bisa memakai Jamkesmas untuk kontrol setiap bulannya. Sudah hampir 4 bulan terakhir Risky tidak pernah kontrol," tuturnya.

Namun hal itu lagi-lagi harus terganjal masalah, karena untuk membuat kartu Jamkesmas yang baru masih memakan waktu 2-3 bulan. "Kartu Jamkesmas masih dalam proses, masih sekitar bulan Agustus-September baru akan tahu apakah dapat klaim dari rumah sakit atau tidak. Dan operasi kedua baru bisa dilaksanakan menunggu Risky berumur 3-4 tahun, tapi Risky harus tetap dikontrol setiap bulan, itu juga butuh biaya yang banyak," papar dia.

Untuk memenuhi biaya sehari-hari, Cece terkadang mendapatkan sumbangan sukarela dari tetangganya yang mengetahui kondisi Risky. "Buat makan atau kebutuhan sehari-hari rata-rata banyak sumbangan dari tetangga. Kadang dikasih Rp 50 ribu, tapi itu hanya cukup untuk makan Risky saja," imbuh Cece.

Sementara biaya untuk kontrol Risky kemarin kata Cece, tak lain berkat sumbangan bantuan teman-temannya di kampung, yang setelah dikumpulkan hasilnya lumayan besar.

Biaya kontrol setiap bulannya diperkirakan untuk obat mencapai Rp 500 ribu. Sementara untuk biaya sebulan membutuhkan sekitar Rp 1,5 juta. Cece berharap usahanya untuk mengurus surat Jamkesmas baru membuahkan hasil, agar Risky bisa sembuh total dan menjalankan aktivitas dengan normal.

"Biaya itu karena tidak memakai Jamkesmas, mungkin kalau sudah di klaim Kamkesmas biaya bisa lebih murah, untuk transport juga harus ada karena pengobatan dilakukan ke Bandung bukan di Garut. Semoga Risky bisa cepat ditolong," harap Cece. (chi/jpnn)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar