Kisah Spiritual: Bertindak Lokal, Berpikir Global

Oleh: Prof Dr Hj Nurhajati SE MS, guru besar Ekonomi Unisma

 Kisah Spiritual: Bertindak Lokal, Berpikir Global
Prof Dr Hj Nurhajati SE MS, guru besar Ekonomi Universitas Malang (Unisma).

Suasana bulan Ramadan yang saya alami, sejauh pengamatan saya, tidak dialami oleh anak-anak saat ini. Menurut saya, ada dua faktor yang membedakan. Pertama, saat ini tidak ada libur sekolah satu bulan penuh selama bulan Ramadan. Liburan hanya pada awal puasa, sekitar tiga hari, dan pada akhir bulan puasa, yakni saat perayaan Idul Fitri. Banyak alasan pemerintah atau pengelola sekolah tidak meliburkan anak-anak selama satu bulan. Di antaranya, kekhawatiran terlambat pelajaran sehingga tidak memenuhi ketentuan kurikulum.

Kedua, permainan anak-anak zaman now tentu berbeda dengan baby boomers karena dampak pembangunan yang dipercepat oleh teknologi informasi melalui internet. Pada zaman saya, permainan tradisional kami mainkan bersama di ruang terbuka di halaman rumah penduduk tanpa mengeluarkan biaya.

Sekarang sudah tersedia playground di mal dengan biaya sewa sesuai lamanya permainan. Tersedia pula sarana bermain yang dapat digunakan di mana saja dan kapan saja seperti games menggunakan gadget. Jenis-jenis permainan sekarang bisa dilakukan dalam kelompok, namun lebih banyak dilakukan secara individu.

Terlepas dari dampak positifnya, penggunaan gadget memberi pengaruh yang cukup banyak terhadap perkembangan kepribadian dan sikap perilaku anak-anak saat ini. Misalnya, kecenderungan perilaku individualistis dan keinginan memperoleh sesuatu secara cepat atau instan.

Anak-anak saat ini sangat mudah dan cepat belajar hal baru karena sarana dan prasarana tersedia serta didukung oleh kondisi ekonomi keluarga. Yang diperlukan saat ini adalah arah pendidikan untuk menghasilkan generasi yang cerdas dan memiliki akhlak yang mulia.

Kita bisa melihat beberapa bangsa yang maju dalam teknologi tetapi tidak melupakan budayanya. Sebagai contoh, bangsa Jepang dan Korea Selatan. Mereka berhasil mengembangkan teknologi maju tetapi tetap mempertahankan budayanya.

Bisa dilihat dari beberapa hal seperti pakaian tradisional, sikap hormat terhadap orang lain, terutama yang lebih tua, permainan atau olahraga tradisional seperti Sumo, cinta produk negara sendiri, dan lain-lain.

Dalam hal tertentu, berbagai kegiatan pada bulan Ramadan adalah bagian penting dari budaya. Ziarah makam, silaturahmi, mudik, saling mengantar makanan hantaran, ketupat Lebaran, rekreasi, dan sebagainya adalah contoh beberapa hal yang banyak bersentuhan dengan aspek budaya daripada agama. Permainan-permainan tradisional seperti masa kecil saya adalah budaya lokal yang saat ini hampir punah.

Kisah Spiritual ini dikisahkan oleh Prof Dr Hj Nurhajati SE MS, guru besar Ekonomi Universitas Malang (Unisma).

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News