Larut dalam Keajaiban Dilan

Larut dalam Keajaiban Dilan
Vanesha Prescilla. Foto: Jawa Pos

Gaya rambut Vanesha dibuat mengembang. Ke sekolah naik angkot. Buat Vanesha, merasakan kehidupan remaja di zaman itu merupakan pengalaman menyenangkan.

’’Best thing itu, dulu pedekate-nya lebih seru. Lewat telepon rumah, surat-suratan, ngapelin ke rumah. Belum ada internet, jadi komunikasi secara langsung lebih berharga,’’ paparnya.

Mendapatkan aplaus penonton setelah film selesai, Iqbaal dan Vanesha merasa lega. ’’Saya berharap, ketika menonton film tersebut, orang meletakkan sosok Iqbaal.

Yang mereka lihat adalah Dilan. Terima kasih atas apresiasi yang luar biasa,’’ ucapnya, lantas menarik napas lega.

Sutradara Fajar Bustomi mengungkapkan, tidak mudah memindahkan cerita novel setebal 345 halaman ke dalam medium film dengan durasi sekitar 110 menit.

Penyusunan skenario merupakan tahap yang paling krusial. Dari setebal 300-an halaman, draf awal harus dipangkas jadi sekitar 160 halaman.

’’Novel 345 halaman (isinya, Red) bagus semua, tapi harus dijaga agar film tidak kepanjangan. Terpaksa saya harus jadi ’raja tega’,’’ tuturnya. (nor/c22/na)


Setelah penantian panjang, film Dilan 1990 yang diangkat dari novel best seller karya Pidi Baiq segera tayang di bioskop


Redaktur & Reporter : Adil

Sumber Jawa Pos

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News