Lemkaji MPR RI Prihatin Atas Rendahnya Mutu Pendidikan

Lemkaji MPR RI Prihatin Atas Rendahnya Mutu Pendidikan
Ketua Lembaga Pengkajian (Lemkaji) MPR RI Rully Chairul Azwar bersama anggota Lemkaji di Gedung MPR RI, Rabu (6/12). Foto: Humas MPR

jpnn.com, JAKARTA - Lembaga Pengkajian (Lemkaji) MPR RI menaruh prihatin atas rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Data UNICEF 2016 menunjukkan, sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak bisa menikmati pendidikan lanjutan.

Selain itu, ada 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia sekolah menengah pertama (SMP) tidak lanjut sekolah. Penyebabnya karena faktor ekonomi, budaya yang membuat anak-anak Indonesia atau orangtuanya tidak tertarik pada pendidikan di sekolah.

Di jenjang pendidikan tinggi, data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2016 menunjukkan masih ada masalah soal mutu dan relevansi pendidikan tinggi (PT).

“Sarjana menganggur pada Februari 2016 mencapai 695 ribu orang, meningkat 20 persen dari 2015 yang hanya 565 ribu orang,” kata Ketua Lemkaji MPR RI Rully Chairul Azwar di Gedung MPR RI, Rabu (6/12).

Dia menambahkan, sesuai data Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), jumlah tenaga kerja lulusan PT juga sangat rendah yaitu 17,5 persen. Persentase ini jauh lebih kecil ketimbang tenaga kerja lulusan SMK/SMA (82 persen) dan lulusan SD (60 persen).

Berdasarkan kondisi itulah, Lemkaji MPR RI melakukan pengkajian atas topik Mencerdaskan Kehidupan Bangsa: Pendidikan Nasional Menurut UUD RI. Di samping acara simposium nasional pada Kamis (7/12) yang merupakan rangkaian proses pengkajian tersebut.

“Ada banyak hal yang dibahas berkaitan dengan mutu pendidikan seperti kurikulum, kualitas guru, serta materi lainnya dengan menghadirkan tokoh-tokoh penting seperti Mendikbud, Prof Dr Mardiasmo, Prof Dr Anwar Arifin, dan lain-lain,” tandasnya.(esy/jpnn)


Sesuai data Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), jumlah tenaga kerja lulusan PT juga sangat rendah yaitu 17,5 persen.


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News