Lengser

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Lengser
Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ilustrasi Foto: Ricardo/JPNN.com

Habibie berusaha melakukan emulasi dalam beberapa filosofi Pak Harto yang menjadi mentornya. 

Namun, Habibie adalah mesin made in Germany yang sophisticated dan serbamekanik-positivistik, mangkus dan sangkil, efektif-efisien.

Tak cocok dengan filosofi kekuasaan Jawa, kekuasaan Habibie hanya seumur jagung dan berakhir karena kudeta politik orang-orang sekitarnya di Partai Golkar.

Susilo Bambang Yudhoyono seharusnya paling Jawa dibanding tiga pendahulunya pasca-Soeharto. Namun, meskipun dalam solah bawa, tingkah laku, SBY adalah seorang kesatria Jawa, tetapi dia adalah jenderal didikan Amerika yang berpikiran demokratis global. Dia berperilaku Jawa tetapi berpikir global.

Joko Widodo hampir mirip dengan SBY dalam hal latar belakang sosiologis sebagai manusia Jawa mataraman. 

Bedanya, SBY adalah tentara kesatria yang priyayi, Jokowi berlatar belakang pedagang, yang dalam strata sosial Jawa masuk dalam kategori kawula.

Dalam esainya “Raja, Priyayi, dan Kawula” Kuntowijoyo membagi strata sosial masyarakat Surakarta di abad ke-20 menjadi tiga kelompok: raja, priyayi, dan kawula.

Para pedagang dan saudagar masuk dalam kategori ketiga sehingga masyarakat agak meremehkan terhadap profesi pedagang maupun saudagar.

Jokowi adalah penguasa pasca-Jawa. Dialah Raja Pasca-Jawa yang mendekonstruksi semua paradigma kekuasaan lama sejak Soekarno.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News