Luhut Lagi

Luhut Lagi
Luhut Binsar Panjaitan. Foto: Ricardo/JPNN.com

Di era Orde Baru, perselingkuhan militer dengan politik dan bisnis melahirkan kekuasaan yang otoriter dan kokoh selama tiga dasawarsa.

Selama pemerintahan Soeharto, militer melakukan berbagai kegiatan bisnis, dan menguasai berbagai konsesi dan monopoli yang dibagi-bagikan kepada kroni-kroni rezim.

Strategi pembangunan ekonomi Orde Baru bertumpu pada teori ‘’trickle down effect’’ yang diperkenalkan oleh ekonom WW. Rostow.

Menurut konsep ini, pembangunan ekonomi difokuskan pada akumulasi pertumbuhan ekonomi yang dikuasai oleh beberapa orang di beberapa sektor saja. Setelah ekonomi tumbuh tinggi maka dengan sendirinya akan terjadi efek luberan, atau trickle down effect.

Dengan konsep ini Soeharto kemudian memberi konsesi kepada para pengusaha, seperti Liem Sioe Liong dan kawan-kawan, memberi mereka berbagai konsesi dan monopoli, dan menjadikan mereka sebagai konglomerat-konglomerat baru.

Dalam perjalanannya, Soeharto membentuk berbagai yayasan atas nama militer, yang menjadi mitra bisnis para konglomerat, dan mendapat keuntungan besar dari kemitraan itu.

Militer terlibat dalam berbagai bisnis besar yang kemudian dipakai untuk membiayai berbagai kegiatan politik dan sosial.

Pada masa Soeharto hubungan militer dengan bisnis menjadi sumber kekuatan politik, tetapi pada akhirnya menjadi sumber bencana bagi rezim Soeharto. Aset dan kekayaan yayasan-yayasan militer itu sulit diaudit, sehingga tidak jelas antara kepemilikan pribadi dengan kepemilikan yayasan.

Untuk menjawab kecurigaan Haris Azhar seharusnya Luhut menjelaskan kepada publik bahwa dia tidak berbisnis.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News