Selasa, 18 Juni 2019 – 06:02 WIB

Luncurkan Kapal Induk, Tiongkok Menuju Status Superpower

Minggu, 21 Agustus 2011 – 09:39 WIB
Luncurkan Kapal Induk, Tiongkok Menuju Status Superpower - JPNN.COM

PERLAHAN tapi pasti, Tiongkok mewujudkan ambisinya untuk menjadi salah satu negara adidaya (superpower). Seiring dengan pertumbuhan ekonominya yang pesat, negeri Presiden Hu Jintao itu sukses melipatgandakan kekuatan militernya. Peluncuran kapal induk Shi Lang menjadi bukti meningkatnya kemampuan militer Tiongkok. Kapal induk yang dibangun dari bangkai kapal induk bekas Uni Soviet (Rusia) Varyag itu melakukan pelayaran perdana pada 10 Agustus lalu.

Sebelum dibeli Tiongkok, Varyag hanyalah sampah besi dan baja. Bahkan, kapal induk pengangkut pesawat itu belum pernah menjalani uji pelayaran. Kemampuan Varyag untuk mengarungi samudra pun diragukan. Angkatan Laut (AL) Uni Soviet meninggalkan begitu saja konstruksi Varyag di galangan kapal Mykolaiv di Laut Hitam pada 1992 seiring bubarnya negeri tersebut. Ketika itu, Varyag masih berwujud kapal setengah jadi.

Bahkan, Varyag sempat terbengkalai di wilayah pesisir Laut Hitam selama enam tahun. Pada 1998, pemerintah Tiongkok mengungkapkan ketertarikannya pada konstruksi kapal berukuran besar tersebut. Melalui sebuah perusahaan yang bermarkas di Makau, Beijing lantas melobi Ukraina yang mengantongi hak waris atas Varyag dari Uni Soviet. Saat itu, Beijing mengaku hendak menjadikannya sebagai kasino apung. Ukraina pun lantas memberikan restu.

Fakta bahwa Varyag belum pernah melewati uji layar membuat pemerintah Turki cemas. Mereka khawatir bahwa Varyag bakal tenggelam di Selat Bosphorus. Jika hal itu terjadi, konstruksi kapal sepanjang 300 meter itu jelas akan memantik kekacauan navigasi dan kerusakan lingkungan. Maklum, selat yang memisahkan Benua Eropa dan Asia itu menjadi salah satu titik strategis pelayaran internasional.

Turki pun baru memberikan izin melintas untuk Varyag pada 2001. Atas berbagai pertimbangan, Varyag akhirnya boleh melayari selat sepanjang 31 kilometer tersebut. Tapi, untuk keperluan itu, Turki terpaksa mensterilkan lalu lintas internasional di selat tersebut. Dengan cara diderek, kapal yang menjadi simbol tumbangnya Uni Soviet itu sukses melewati Bosphorus. Butuh waktu lima bulan bagi Varyag untuk tiba di Samudera Pasifik.

Austin Ramzy, koresponden majalah Time yang bertugas di Dalian, Tiongkok, mengungkapkan bahwa tujuan awal Varyag adalah Makau. Sayang, pelabuhan Makau terlalu dangkal untuk menjadi tempat bersandar Varyag. "Bangkai kapal itu kemudian bersandar di pelabuhan Kota Dalian," ungkapnya. Di sanalah, Varyag mengalami transformasi. Selama sekitar satu dekade, bangkai kapal itu berubah menjadi kapal induk.

Kehadiran kapal induk pertama yang dinamai Shi Lang tersebut membuat militer Tiongkok menggeliat menjadi kekuatan besar. Apalagi, dalam satu dasawarsa terakhir, kekuatan militer negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia tersebut juga berlipat ganda. Persenjataan dan perlengkapan militernya pun terus diremajakan. Tak hanya itu, anggaran militer Tiongkok terus meningkat rata-rata 15 persen per tahun sejak 2000 lalu.

"Beijing juga menjadi lebih agresif. Mereka secara terus-menerus memperbarui klaim atas kawasan lautnya. Terutama, di Laut Cina Selatan," tulis Ramzy.

Untuk mengimbangi klaimnya, Beijing juga lebih rajin berpatroli di perairan sekitar wilayahnya. Terutama, di area yang memantik sengketa regional dengan Jepang, Filipina, dan Vietnam. Karena itulah, tidak heran jika pembenahan angkatan laut (AL) menjadi fokus utama militer Tiongkok.

"Langkah Tiongkok itu semakin memperkuat ketegasan mereka (atas teritori laut)," ujar Clive Schofield, direktur Australian National Centre for Ocean Resources and Security pada University of Wollongong.

Menurut dia, kebijakan itu bisa menambah ketegangan dengan negara-negara tetangga. Khususnya, negara-negara yang berkepentingan atas sumber daya alam di Laut Cina Selatan.

AS juga terusik dengan kekuatan militer Tiongkok. Pemerintahan Presiden Barack Obama yang belakangan mengurangi anggaran pertahanan dan militer tampaknya mulai merasa terancam dengan perkembangan pesat militer Tiongkok. Dalam beberapa kesempatan, negeri adidaya itu pun melancarkan latihan militer gabungan dengan negara-negara sekutunya yang berkonflik dengan Tiongkok.

Namun, Tiongkok menilai tidak perlu campur tangan AS itu. Beijing pun buru-buru menegaskan bahwa kehadiran kapal induk perdananya dan perkembangan militernya bukan ancaman bagi stabilitas keamanan regional di Asia Pasifik. "Pelayaran (Shi Lang) menjadi simbol pencapaian tertinggi kami sebagai negara maritim. AS dan Inggris juga demikian," tegas Ni Lexiong, pakar kebijakan maritim Tiongkok di Shanghai University of Political Science and Law, kepada The Guardian pekan lalu.

Pengamat militer Asia Richard Bitzinger, yang selama ini berdomisili di Singapura, menilai bahwa unjuk kekuatan militer Tiongkok lewat pelayaran perdana kapal induk tak perlu membuat AS cemas. Menurut dia, Tiongkok tidak sedang berusaha menyaingi kedigdayaan atau memantik konfrontasi dengan Negeri Paman Sam.

"Setidaknya, hal itu tak akan terjadi dalam lima tahun ke depan," papar Bitzinger seperti dilansir World Tribune pada 11 Agustus lalu. "Kapal induk tersebut hanya akan menjadi armada latihan militer Tiongkok," tambah pakar senior pada S. Rajaratnam School of International Studies Singapura tersebut.

Setelah kapal induk itu sukses melakukan pelayaran perdana, kini militer Tiongkok melatih para penerbang jet tempur AL untuk melakukan pendaratan di atas kapal yang bergerak. Bagi Tiongkok yang tidak memiliki pengalaman tersebut sebelumnya, hal itu jelas akan memakan waktu.

Sedangkan AS punya pengalaman enam kali lipat lebih banyak dibandingkan Tiongkok dalam urusan kapal induk. Kemampuan tentara AS pun jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Tiongkok terkait teknik perang di atas kapal. Jika Tiongkok baru mulai berhubungan dengan kapal induk tahun ini, AS sudah mengoperasikan kapal induk sejak 1934. Hingga kini AS memiliki 11 kapal induk bertenaga nuklir. Masing-masing bisa mengangkut 80 pesawat.

Tetapi, pengalaman bukan segalanya. "Bagaimanapun, Tiongkok harus memulainya. Ibarat pasangan pengantin baru yang harus menjalani kehidupan rumah tangga karena sudah sah sebagai suami istri," ujar Andrew Erickson, pengajar U.S. Naval War College, mengibaratkan.

Dia yakin, setelah proses adaptasi terlewati, Tiongkok bakal tergiur untuk memproduksi kapal induk berikutnya. Bahkan, saat ini beredar kabar bahwa ada tiga kapal induk lain yang sedang dibangun Tiongkok di Dalian.

Menurut Erickson, Tiongkok sengaja melipatgandakan kekuatan militernya hanya untuk mempertahankan Taiwan. "Beijing jelas tak mau kehilangan Taiwan. Karena itu, mereka perlu melakukan serangkaian langkah antisipasi. Apalagi, belakangan hubungan militer Taiwan dan AS kian meningkat," katanya menganalisis.

Jika itu tujuannya, Beijing sudah cukup berhasil. Sebab, Taiwan cukup gentar dengan kehadiran Shi Lang. Mereka menyebutnya kapal induk pembunuh. Apalagi, Shi Lang diambil dari nama komandan kapal perang Manchu yang berhasil menaklukkan Taiwan pada 1681. Kendati begitu, kehadiran kapal induk baru Tiongkok tetap saja memicu kekhawatiran negara-negara di dunia, khususnya di Asia Pasifik. (berbagaisumber/hep/dwi)
SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar