MBG Rizhao

Oleh: Dahlan Iskan

MBG Rizhao
Dahlan Iskan. Foto/ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

Saya diminta meninjau rumah sakit itu. Saya pun geleng kepala: di kabupaten sekecil ini punya RS sebagus itu. Saya berterima kasih dua ahli jantung Indonesia sudah boleh belajar jadi konsultan jantung di sini.

Dua dokter itu: dr Jagaddhito (Unair-UGM) dan dr Rachim Enoch (Unpad-Unpad). Jagaddhito putra mantan rektor ITS. Aktivis mahasiswa Surabaya. Rachim orang Singkawang.

Dua-duanya merasa beruntung sekolah satu tahun di Rizhao. Ini kota kecil tapi peralatan dan sistemnya modern. Biaya hidupnya juga murah. Temannya yang dapat sekolah di kota besar harus ''defisit''. Beasiswanya habis hanya untuk sewa apartemen.

Dari Jagaddhito saya tahu: di kota sekecil ini pun ada 20 mahasiswa dari Indonesia. Mereka kuliah e-commerce. Didominasi wanita. Beberapa di antaranya berjilbab. Salah satunya dari Banyuwangi. Dari Muncar. Ayahnyi sopir truk.

Saya ajak mereka makan malam. Mereka pilih di resto halal Xibei. Resto baru. Modern. Bersih. Sayang, nasinya sudah habis. Tinggal mie dan daging. Untung satenya masih banyak. Sate domba khas wilayah muslim di Barat Laut yang gurih.

Mereka lantas menawarkan saya ke pantai Wan Ping Kou. ''Gerbang Kedamaian Abadi''. Pagi-pagi. Sebelum pukul lima: harus melihat matahari terbit.

Orang Rizhao terlalu bangga dengan matahari terbitnya. Mereka bilang, matahari bukan terbit dari timur, tapi dari Rizhao.

Benar. Indah sekali. Klaim itu tidak berlebihan.

Jannet akhirnya bisa mendapatkan tiket kereta cepat di hari gawat menjelang libur panjang Hari Buruh: dari Shanghai ke Rizhao. Itu perjalanan empat jam.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News