Jumat, 15 Desember 2017 – 11:36 WIB

Tausiyah Ramadhan (3)

Memanfaatkan Setiap Waktu di Dalam Ramadhan

Minggu, 21 Juni 2015 – 11:30 WIB
Memanfaatkan Setiap Waktu di Dalam Ramadhan - JPNN.COM

Adhyaksa Dault.

 

SALAH satu keutamaan Ramadhan adalah nilai pahala yang terkandung di dalamnya. Jika di luar Ramadhan setiap amal ibadah kita diganjar dengan satu pahala, maka di dalam Ramadhan Allah SWT membalas satu ibadah hamba-Nya dengan 70 kali lipat amal ibadah di bulan lain. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah Rasulullah SAW bersabda, "Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah  dengan perbuatan baik (sunnah) pada bulan Ramadhan, (ia diganjar pahala) sama seperti menunaikan suatu kewajiban (fardlu) pada bulan yang lain. Siapa saja yang menunaikan kewajiban (fardlu) di bulan Ramadlan, (ia diganjar pahala) sama dengan orang yang mengerjakannya 70 kali kewajiban tersebut di bulan yang lain." Dalam riwayat lain Rasulullah SAW juga bersabda. "Segala amal kebajikan anak Adam dilipatgandakan pahalanya dengan 10 hingga 700 kali lipat.  Allah berfirman: ‘kecuali puasa, puasa itu untukKu dan Aku (sendiri) yang akan mem- berikan pahala kepadanya.  Dia telah mening- galkan syahwat dan makan minum lantaran Aku." (HR. Muslim).

Hadits ini seharusnya menjadi berita gembira bagi kita yang sudah pasti membutuhkan pundi-pundi pahala sebagai bekal menghadap Allah SWT. Semakin rutin kita melakukan amal kebajikan di dalam Ramadhan, maka nilai pahala yang terkumpul pun akan semakin berlimpah. Oleh sebab itu, hamba yang sangat memahami hal ini tidak akan pernah melewatkan sedetikpun waktu di setiap hari pada bulan Ramadhan. Mereka akan selalu termotivasi untuk mengisinya dengan kegiatan yang berorientasi pada pengabdian kepada Allah SWT. Mulai dari sholat fardu lima waktu, sholat sunnah, membaca Alquran, hingga amal kebaikan lain yang dapat mengundang rahmat Allah SWT. Bisa dibayangkan jika setiap kegiatan, sesederhana apapun, kita niatkan semuanya sebagai bagian dari ketundakan kepada Allah SWT, maka Ramadhan benar-benar telah berhasil membentuk diri kita menjadi hamba yang kaya raya. Kaya karena pahala yang kita dapatkan berlimpah ruah yang insya Allah SWT akan memudahkan kita meraih Surga-Nya.

Orang yang memahami keistimewaan ini tidak akan pernah punya alasan untuk mengabaikan setiap detik di dalam Ramadhan. Seorang pejabat negara, misalnya, dia akan semakin bersemangat melayani masyarakat yang dipimpinnya karena setiap pelayanan yang diberikan akan diganjar dengan 70 kali lipat pahala. Apalagi, jika di bulan-bulan sebelumnya seorang pemimpin masih menyisakan tanggung jawab yang belum ditunaikan secara maksimal kepada yang dipimpinnya. Maka Ramadhan ini harus menjadi momentum perubahan dan visi diri dalam menjalankan tugas kepemimpinan. Akan sangat mulia jika momentum perubahan besar atau yang istilah Presiden Joko Widodo revolusi mental dimulai lewat bulan mulia ini. Kita sangat merindukan seorang pemimpin yang dalam benaknya melayani masyarakat bukan hanya menunaikan janji kepada masyarakat yang telah memilihnya menjadi seorang pemimpin, tapi yang lebih penting adalah tanggung jawab kepada Allah SWT. Maka sangat merugi jika di dalam Ramadhan ini kita masih menyaksikan ada pemimpin yang abai terhadap masyarakat yang dipimpinnya.

Selebihnya, kita semua tentu punya peluang yang sama untuk menanam investasi pahala kebaikan sebanyak mungkin di Ramadhan ini. Terutama untuk semakin dekat dengan Allah SWT, sehingga kita mudah meminta apapun kepada-Nya. Sebaik-baik kita yang memburu pahala berlimpah tentu yang terus mengevaluasi dosa yang pernah dilakukan di masa-masa silam. Jika saat ini usia kita sudah mencapai 30, 40, 50, atau 60 tahun, maka tinggal kita mengevaluasi berapa puluh tahun usia itu kita gunakan untuk hal-hal yang melenceng dari ajaran Allah SWT. Oleh sebab itu, salah satu cara kita memanfaatkan setiap waktu dalam Ramadhan ini adalah menjadi momentum untuk mendapat pengampunan atas dosa-dosa kita. Sebab, akan terasa sia-sia jika kita terus memburu pahala kebaikan, sementara di waktu yang bersamaan dosa-dosa yang kita buat masih menggunung terus kita biarkan. Oleh karenanya tidak ada cara lain selain dengan meminta ampunan kepada Allah SWT. Orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah SWT di bulan ini, maka sudah dipastikan akan merugi. Hanya dengan jalan pengampunan ketakwaan yang menjadi tujuan akhir Ramadhan akan kita raih dengan maksimal. Tak ada ketakwaan tanpa ampunan dari Allah SWT. Dalam sebuah riwayat Rasululullah SAW bersabda, "Jika tidak diampuni pada bulan Ramadhan, maka kapan lagikah diampuni orang yang tidak mendapatkan pengampunan pada bulan ini."

Ramadhan adalah anugerah mahal yang diberikan Allah SWT kepada kita. Usia ummat Nabi Muhammad memang terbilang singkat jika kita membandingakn dengan usia-usia kaum nabi-nabi lain sebelum kerasulan Muhammad. Kaum Nabi Nuh, misalnya, yang dalam riwayat menyatakan bahwa usia kaumnya mencapai ribuan tahun. Dengan usia yang panjang seperti itu tentu mereka punya kesempatan yang juga panjang. Jika selama 60 tahun usia mereka digunakan untuk bermaksiat kepada Tuhannya, maka mereka tidak perlu khawatir karena masih ada ribuan tahun yang mereka bisa manfaatkan untuk bertobat dan berbuat kebaikan. Tapi bagaimana dengan kita? Usia kita tidak sepanjang mereka. Oleh karenanya Ramadhan salah satu jawabannya. Apalagi, di dalam Ramadhan ada malam yang nilai pahalanya sama dengan kita beribadah selama seribu bulan. Dalam QS Al-Qadr ayat 3 Allah SWT berfirman, "Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."

Berulang kami Allah SWT mempertemukan kita dengan Ramadhan, tapi tak jarang sebagian dari kita berulang kali merasa gagal meraih sesuatu yang membanggakan dari bulan suci ini. Yang kita dapatkan hanya lapar dan haus saja. Tidak lebih. Oleh karenanya, kita harus meningkatkan semangat dan etos ibadah kita di Ramadhan kali ini. Semangat yang pernah digelorakan oleh para sahabat Rasulullah saat sama-sama di bulan ini. Bahkan, kalau kita membuka sejarah peradaban Islam, tak terhitung jumlahnya peristiwa besar terjadi pada saat Ramadhan. Perang Badar, misalnya. Salah satu perang terbesar dalam sejarah Islam ini terjadi pada 17 Ramadhan tahun ke-2 hijrah. Pasukan umat Islam yang hanya berjumlah 313 tentara dengan dukungan dua ekor unta, berhasil mengalahkan kaum kuffar yang berkekuatan seribu prajurit dengan dukungan 700 ekor unta. Selain itu, Fathu Makkah yang merupakan peristiwa penaklukan Kota Mekkah dari tangan kaum Musyrikin juga terjadi pada saat Ramadhan tahun ke-8 hijrah. Dua peristiwa akbar ini menjadi bukti bahwa Allah SWT sangat dekat dengan hamba-Nya di bulan Ramadhan. Tentu hanya hamba yang benar-benar memaksimalkan setiap detik waktunya untuk Allah SWT di bulan ini. Lelah, dahaga, dan haus, yang kita rasakan di sing hari tidak boleh menjadi alasan ibadah kita tidak maksimal. Bahkan harus sebaliknya, harus semakin bersemangat. Harapan kita mudah-mudahan kedahsyatan Ramadhan yang dirasakan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya berlanjut pada diri kita yang hidup di zaman ini. Aamin. (adv/*)

Oleh : DR. Adhyaksa Dault
(Ketua Kwartir Nasional Pramuka)

SHARES
TAGS   Tausiyah ramadan
loading...
loading...
Komentar