Menantikan Perjumpaan Gus Baha, Kiai Imam Jazuli dan Kiai Yasir Alimi

Oleh: Aguk Irawan MN

Menantikan Perjumpaan Gus Baha, Kiai Imam Jazuli dan Kiai Yasir Alimi
Aguk Irawan MN. Foto: Dokpri

Kegelisahan Ropingi masuk akal. Hari ini kita lihat banyak youtuber yang hanya mengejar kontens. Bisa saja terjadi, ceramah agama yang sangat berkualitas maupun tidak, di mata pencari kontens tidak penting sama sekali. GB mengeluhkan model dakwah entertainment ini sebagaimana kaum akademisi 10 tahun silah juga keluhkan. Tetapi, saya rasa, izhharul ‘ilmi berbeda dari “al-intiqash”, memperihatkan ilmu di jaman fitnah berbeda dengan merendahkan orang lain dan meninggikan diri sendiri.

Dalam jurnal Islam and Popular Culture in Indonesia and Malaysia, Rhoma Irama (2011) menulis artikel berjudul Music as a Medium for Communication, Unity, Educatioin, and Dakwah. Raja Dangdut itu menjadikan musik sebagai media dakwah, dengan konsep “Nada dan Dakwah”. Karenanya, banyak intelektual yang mengapresiasi pendapatnya. “Mengejek” penggunaan musik sebagai pelengkap dakwah itu tidak baik. Saya suka Kiai Kuswaedi Syafi’i, Pnegasuh Pondok Maulana Rumi, Pengajar Tasawuf Falsafi Ibnu Arabi, juga menggunakan musik dalam dakwahnya.

Kritik GB terhadap pola dakwah kontemporer memang menarik. Pada satu sisi saya sepakat, agar para santri dan keluarga pondok pesantren merawat naskah-naskah warisan leluhur mereka.  Pengalaman saya pribadi dalam melakukan penelusuran pada naskah-naskah ini, kadang membuat saya miris. Salah satunya naskah-naskah milik Kiai dan Wali berada di rumah orang-orang non-muslim. Kenyataan ini jauh lebih “pahit” dari pada keluarga pesantren tidak punya karya leluhurnya sendiri.

Yang paling terakhir ini saya pribadi sampaikan, sungguh luar biasa GB, KIJ dan YA meramaikan jagad medsos ini dengan tulisan-tulisan yang saling melengkapi satu sama lain. Di masa yang akan datang, saya berharap “sahut-sahutan” seperti ini lebih semarak lagi. Sebab, bosan sekali rasanya perkara keagamaan ditarik ke ranah politik dan hukum. Padahal idealnya, kita selesaikan di ranah akademik dulu, setidaknya lewat artikel di media sosial.(***)

Secara umum, Aguk Irawan mengapresiasi semua pemikiran kiai-kiai muda itu, terlebih mereka yang mau menyisakan waktu untuk menulis di samping berceramah di podium.


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News