Menebus Dosa Masa Lalu, Kini Omzet Bisa Rp 800 Juta per Bulan

Menebus Dosa Masa Lalu, Kini Omzet Bisa Rp 800 Juta per Bulan
Ikhwan Arief berdiri di rumah apung Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur. Foto: JAWA POS PHOTO

Karena penentangan yang keras, anggota KNSB awalnya sedikit. Mayoritas nelayan yang bergabung adalah anak asuh orang tua Ikhwan.

Bahkan, orang tuanya ikut mengingatkannya dengan keras tentang kenekatannya mengampanyekan cara tangkap ikan hias ramah lingkungan.

”Kalau kamu seperti itu terus, anak dan istrimu mau dikasih makan apa?” kenang Ikhwan tentang peringatan sang ayah yang kini telah almarhum.

Tapi, Ikhwan tetap nekat. Sepulang mengajar di madrasah, dia door-to-door menyadarkan nelayan agara tidak memakai potasium.

Dia juga meminta bantuan takmir tujuh masjid yang ada di desanya agar membantu mengampanyekan melalui khotbah Jumat.

Pada 2009, setelah program dari Gilang dan Pelangi tuntas, Ikhwan menggelar kegiatan mandiri dan swadaya bersama KNSB. Mereka fokus konservasi seperti menanam terumbu karang dan mangrove sepanjang Pantai Bangsring.

”Dulu awal kami mulai, di Bangsring kawasan konservasi terumbu karang hanya 1,5 hektare yang terumbu karangnya paling rusak. Sekarang area konservasinya 15 hektare,” katanya.

KNSB juga menawarkan berbagai fasilitas bagi nelayan yang mau bergabung menyelamatkan lingkungan. Di antaranya, membantu pengurusan izin penangkapan ikan. Kemudian, memproteksi para nelayan dari potensi pungli oleh sejumlah oknum.

Bom ikan itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Ikhwan Arief. Korek pun sudah siap. Tinggal dinyalakan nelayan yang mengancamnya, habislah

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News