Rabu, 19 Desember 2018 – 10:14 WIB

Menemukan TANAHAIR Kembali

Kamis, 15 November 2018 – 11:33 WIB
Menemukan TANAHAIR Kembali - JPNN.COM

jpnn.com - HAI para ahli bahasa…tak ada yang keliru dengan tulisan “TANAHAIR” yang digabung. Di kampung ini, dengan kesadaran penuh, rakyatnya gotong royong mengawinkan tanah dan air.
 
Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network
 
Begitulah adanya. Rakyat Jatitujuh, Majalengka, Jawa Barat kembali menggelar FESTIVAL TANAHAIR yang kelima, sepanjang 24 hingga 28 Oktober 2018 lalu.
 
Berdasarkan pantauan mata langsung, di sekitar arena FESTIVAL TANAHAIR bertebaran spanduk dan baliho bertuliskan “KIM EXPO 2018”.
 
Sejak tahun-tahun sebelumnya, perhelatan tahunan rakyat Jatitujuh ini memang senantiasa melibatkan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM).
 
“KIM tidak dibentuk oleh pemerintah. Tapi, tumbuh dan dikembangkan oleh masyarakat,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Majalengka Maman Sutiman, di Jatitujuh, 24 Oktober 2018. “Pemerintah hanya memfasilitasi,” sambungnya.
 
Siang itu, Dinas Kominfo Majalengka menggelar sarasehan bertajuk memberantas hoaks dengan meningkatkan budaya membaca.
 
Tak heran bila di muka paviliun pameran diisi beberapa stand kerajinan tangan dan stand buku bacaan. 
 
“Kami sangat mendorong kelompok informasi masyarakat memberikan edukasi untuk masyarakat. Satu di antaranya dengan cara menggalakkan program masyarakat membaca,” kata Maman.
 
Menurut dia, masa kini arus informasi melalui internet terlalu melimpah. Namun, kemampuan berpikir kritis dan budaya membaca rendah. Akibatnya, penerima informasi sulit membedakan mana berita benar, mana berita palsu alias hoaks.
 
“Hoaks begitu mudah tersebar hanya karena sejalan dengan aspirasi dan pendapat yang membacanya. Tidak ada kroscek, apalagi verifikasi dan tabayyun. Hanya emosi dan minim logika,” kataya.
 
Sarasehan itu dikemas santai. Ngobrol diselingi lantunan lagu-lagu balada yang dimainkan seniman Konser Kampung. Rakyat pun cukup antusias menyimak.
 
KIM, sebagaimana dilansir dari situs kominfo.go.id, punya peran strategis dalam menyebarkan informasi positif. Maka Kementerian Komunikasi dan Informatika, akan terus mengembangkan keberadaan KIM di seluruh Indonesia.
 
“KIM berperan meneruskan informasi dari pemerintah kepada masyarakat. Selain itu, KIM juga bisa menyerap aspirasi masyarakat untuk diteruskan kepada pemerintah,” kata Kasubdit Pemerintahan dan Lembaga Negara, Kemenkominfo Gungun Siswadi.
 
Musim Tanam dan Filosofi Tanahair
 
FESTIVAL TANAHAIR 5 diawali ritual Sedekah Bumi. Pagi-pagi sekali, seiring naiknya matahari, rakyat mulai berdatangan ke pekarangan sanggar Konser Kampung, yang terletak di antara areal persawahan dan Sungai Cipelang. 
 
“Sedekah Bumi ini warisan leluhur. Perlambang keselarasan dan keseimbangan alam,” kata Subita, budayawan Jatitujuh.
 
Berdasarkan pitutur turun temurun, Subita menerangkan, saat bertani boleh jadi ada unsur lain dari makhluk hidup yang “tersinggung”. Keong yang kena pacul, misalnya. Atau rumput yang terinjak-injak, dan lain sebagainya.
 
Maka, untuk menyelaraskan kembali hubungan manusia dengan semesta, diadakanlah ritual Sedekah Bumi.
 
Pagi itu, rakyat berdatangan menjinjing bekal makanan dari rumah masing-masing. Macam-macam. Setelah ritual adat, mereka santap bersama di hamparan sawah. Saling bertukar lauk. Berbagi makanan. Guyub dalam rasa yang sama.
 
Subita kawan satu pondokan saya di Ubud, Bali. Dialah yang mengundang saya datang ke kampung halamannya di Jatitujuh. Menyaksikan peristiwa kebudayaan; FESTIVAL TANAHAIR.  
 
“Pak Wen isi acara ya. Ceritakan hasil penelitian Pak Wen tentang sejarah leluhur Indonesia yang berjaya pada masa sungai-sungai adalah jalan raya. Sejarah ketika kita masih jadi bangsa pelaut.”
 
Katanya lagi, “cuma ini nggak seperti kawanan kita kalau ngisi acara di Ubud. Nggak ada bayaran,” dan kami pun, di sambungan telepon genggam, saling melempar tawa.
 
Saya penuhi undangan Subita. Datang dan beberapa malam di sanggar Konser Kampung menjelang hari H.
 
Saya saksikan Subita memimpin kawan-kawannya membangun panggung dan segala kelengkapan artistik acara, hingga paviliun pameran. Seluruhnya, nyaris berbahan dasar bambu. Itu memang keahliannya.
 
Di Ubud, dia membuat biola, gitar, bass, cello, drum, kacamata, bahkan sepeda dari bambu. Beberapa keperluan di kamar saya, mulai dari asbak hingga lemari buku dan pakaian juga dibuat Subita dari bambu.  
 
Maestro bambu, begitu pria berambut keriting itu dijuluki kawan-kawan di Pulau Dewata.
 
Di sanggar Konser Kampung, ada budaya kerja sama-sama, belajar sama-sama dan makan sama-sama.
 
Seterampil-terampilnya Subita, tanpa rakyat yang bahu-membahu memotong dan menggotong bambu. Tanpa gotong royong mustahil semua terjadi. 
 
Panggung FESTIVAL TANAHAIR dirancang Subita menyerupai pabrik. Lengkap dengan cerobong asapnya. “Ini simbol,” katanya. “Di sini mulai berdiri pabrik-pabrik. Dan tentu saja akan semakin mencemari sungai.”
 
Panggung itu didirikan di atas sungai yang bermuara ke laut Indramayu. Airnya nyaris kering.
 
Di aliran sungai--sebelah kanan, kiri dan belakang panggung—dipasangi instalasi beberapa bunga dan capung raksasa, yang dibuat Subita dari bambu.
 
Entah disadarinya atau tidak, lagi-lagi ini adalah simbol. Capung, berdasarkan kajian tua dan sudah teruji secara ilmiah, adalah pendeteksi air. Bila masih ada capung yang bermain di air, pertanda air itu masih baik. Tak tercemar.  
 
Sebetulnya, sejak beberapa tahun belakangan, Sedekah Bumi mulai ditinggalkan masyarakat pendukungnya. Sepi. Ritual tua warisan leluhur Jatitujuh itu mulai semarak lagi sejak lima tahun lalu.
 
Berdasarkan cerita yang dihimpun, ada kisah menarik yang menjadi latarnya.
 
Gencarnya arus modernisasi dan beberapa musabab lain, Sedekah Bumi yang lazimnya digelar tiap bulan Oktober menyambut datangnya musim hujan dan jelang musim tanam, perlahan menyepi.
 
Di sisi lain, setelah didirikan pada 26 Juni 1986, Konser Kampung—yang dalam bahasa Jatitujuh berarti keliling kampung--punya hajatan tahunan merayakan 17 Agustusan. Panggung pertunjukan seni dan budaya.
 
Makin kemari, Sedekah Bumi makin sepi. “Padahal, dulunya ritual itu diikuti seluruh masyarakat Jatitujuh. Anak-anak, tua muda, lelaki perempuan,” kenang Uwak Kidjoen, 60 tahun, tetua dan pendiri Konser Kampung.
 
Nah, omong punya omong. Dari obrolan santai di sanggar Konser Kampung, tercetus ide menghidupkan lagi Sedekah Bumi dengan cara mengawinkan panggung tahunan Konser Kampung dengan Sedekah Bumi.

Yang muda pun menyambangi yang tua. Segala kemungkinan dirundingkan.
 
Sedekah Bumi sudah ada sejak dahulu kala. Entah sejak kapan. Itu budaya leluhur. Karuhun. Maka yang muda mengalah. Kesepakatan dicapai. Dua perhelatan dikawinkan jadi satu. Lahirlah Festival Tanahair. Dihelat setiba musim hujan. Sesuai Sedekah Bumi.
 
“FESTIVAL TANAHAIR ini merekam jejak masyarakat. Bersukur, atau pemujaan kepada alam. Sedekah Bumi pernah diganti namanya jadi Hajat Bumi. Sebab, sedekah hanya untuk orang miskin. Sementara bumi amatlah kaya,” kata Wak Kidjoen.
 
Menurut Wak Kidjoen, penyatuan kata tanah dan air dalam penulisan FESTIVAL TANAHAIR juga tak serampangan. Bagi rakyat Jatitujuh, tanah dan air satu kesatuan.
 
Nasionalisme Indonesia, adalah nasionalisme tanah dan air. Ini tercermin pula dalam lagu Indonesia Raya tiga stanza.
 
FESTIVAL TANAHAIR pertama digelar lima tahun lalu. Sejak awal sampai sekarang, pelaksanaanya beberapa hari berturut-turut. Siang malam. Dan selalu diawali dengan Sedekah Bumi. Barulah dilanjutkan siang dan malam dengan serangkaian acara.
 
Ada teater. Puisi. Musik. Bincang budaya. Kuda lumping dan lain sebagainya. Termasuk sarasehan KIM yang difasilitasi Kominfo. Yang musim ini mengangkat tajuk memberantas hoaks dengan meningkatkan budaya baca buku.
 
Oiya, luasnya pergaulan para seniman Konser Kampung turut meluaskan gelaran ini. Pengisi acara, dan hadirin yang datang tak hanya dari Indonesia. Juga dari mancanegara. (wow/jpnn)

SHARES
Sponsored Content
loading...
loading...
Komentar