Mengetuk Pintu Langit India dari Mumbai

Mengetuk Pintu Langit India dari Mumbai
Suasana TTF dan OTM di Bombai Exhibition Center di Mumbai, India, tadi malam.

Polisi sering digambarkan sebagai orang yang mengenakan kostum cokelat-cokelat, naik mobil kuno seperti Fiat, tatapan mata yang tajam, berkumis tebal, wajah yang besar, perut sedikit buncit, tetapi saat bicara mempertontonkan keramahannya seraya menggeleng-gelengkan kepala ke kiri dan kanan, “Acha-acha,” itu riil. Ya seperti itulah India sekarang?

Saya coba berkeliling ke dua mal besar, melihat pakaian, baju, celana, sepatu, tas, dompet, juga tidak banyak yang branded. Hanya di lokasi-lokasi tertentu seperti Hotel Taj Mahal, persis membelakangi monumen Gateway of India, yang terlihat ada butik-butik barang-barang impor dan berkelas. Hampir semua asli buatan India sendiri. Karya anak-anak India. Mereka bangga mengenakan karya anak bangsanya. Ini bagian dari impact jangka panjang dari spirit swadesi yang dibangun Mohandas Karamchand Gandhi, berdiri di atas kaki sendiri.

Orang India tidak takut jatuh miskin, apalagi hanya sekedar sebutan “miskin.” Karena itu, di semua tempat selalu ditemui perempuan mengenakana kain sari, khas India. Baju kebanggaan akan semangat swadesi. Mereka juga percaya akan prinsip satyagraha, jalan menuju kebenaran. Yakni dengan cara ahimsa, tidak dengan kekerasan.

Aroma kemiskinan sulit dihindarikan. Pemandangan kiri dan kanan jalan cukup membuat sulit menelan ludah. Rumah beratap terpal, dengan warna debu lebih dominan dari warna hijau tentara, warna asli atap penutup tempat bermukim mereka. Penjaja makanan di bawah pohon, di tepi jalan, tanpa meja kursi, dengan kompor langsung di atas tanah.

Ada satu fakta mencengangkan tentang India. Jumlah orang kaya di Asia Selatan itu sudah mencapai 350 juta orang. Itu artinya, 100 juta lebih banyak

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News