Mengharukan, Anak Pemungut Sampah itu Berhasil Masuk UINSA Lewat Jalur Prestasi

Mengharukan, Anak Pemungut Sampah itu Berhasil Masuk UINSA Lewat Jalur Prestasi
Sukidi yang sudah 18 tahun bekerja memungut sampah warga. Foto: dokumentasi keluarga/Ngopibareng

Sukidi sudah 18 tahun bekerja memungut sampah. Foto: dok. keluarga/ngopibareng

 

Sukidi sudah menjadi pemungut sampah sejak 1996. sudah 18 tahun yang lalu, dia menekuni pekerjaan ini. Dia awalnya penjual keripik. Namun, berhenti berjualan  karena sepi pembeli.

Setiap hari, di pagi dan sore, Sukidi dibantu adiknya Sugi, mengambil sampah dari 650 rumah yang meliputi area Manyar Sabrangan, Menur, Manyar Tompotika dan sekitarnya.

Sampah yang dikumpulkan itu kemudian dipindahkan ke truk sampah yang stand by di Jembatan Menur. Tak jauh dari tempat tinggalnya. Sampah rumah tangga itu kemudian dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Sampah itu diangkut menggunakan gerobak kayu yang ditarik dengan sepeda motor bebek yang sudah butut. 

Sukidi yang mengendarai sepeda motor, sedang adiknya duduk di belakang sambil memegangi gerobak.

Bagaimana sikap istri, ketiga anak dan menantunya melihat bapaknya bekerja sebagai tukang sampah? Sukidi mengaku tidak ada masalah. Tidak ada yang merasa rendah diri atau malu terkait dengan pekerjaan ayahnya tersebut

Sukidi yang seorang pemungut sampah tak menyangka anaknya bisa lolos SNMPTN lewat jalur prestasi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News