JPNN.com

Mensos Ingatkan KPM PKH Graduasi Jangan Sampai Turun Kelas

Kamis, 17 September 2020 – 14:32 WIB
Mensos Ingatkan KPM PKH Graduasi Jangan Sampai Turun Kelas - JPNN.com
Menteri Sosial Juliari P Batubara. Foto Humas Kemensos.

jpnn.com, CIREBON - Menteri Sosial Juliari P Batubara mengumpamakan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) graduasi sudah naik kelas. Dia pun berpesan agar mereka jangan sampai turun kelas lagi.

"Ibarat anak sekolah, ibu-ibu sudah naik kelas atau sudah lulus. Kalau sudah lulus jangan balik lagi jadi KPM. Kalau sudah lulus sebaiknya sekolah lagi lebih tinggi," kata Mensos Juliari dalam sambutannya di acara Graduasi KPM dan Rekonsiliasi Nasional Bantuan Sosial Program Keluarga Harapan 2020, di Cirebon pada Kamis (17/9).

Pada kesempata itu Juliari menekankan bahwa tugas negara dalam mengurangi angka kemiskinan bukan hanya pekerjaan presiden, menteri sosial atau bupati dan wali kota. Tetapi yang lebih penting adalah motivasi dari dalam diri penerima KPM itu sendiri.

"Ibu-ibu harus ada motivasi supaya hidup ke depan lebih baik. Baik bagi ibu-ibu baik pula buat Indonesia ke depan. Bila kemiskinan bisa segera dikurangi maka harapan Bapak Presiden agar Indonesia menjadi negara berpendapat menengah pada tahun 2045, tepat 100 tahun Indonesia merdeka, bisa tercapai dengan baik," katanya.

Oleh karena itu, menteri yang beken disapa dengan panggilan Ari itu menekankan pentingnya peran pendamping yang diharapkan memberikan skill dan pengetahuan kepada KPM. "Termasuk bagaimana mengelola dana bantuan sehingga meningkatkan produktifitas KPM," tegasnya.

Menteri Ari mengatakan graduasi dan rekonsiliasi merupakan upaya pemerintah dalam mengikis kemiskinan.

"Dari laporan yang saya terima hingga Agustus kemarin sebanyak 711.126 atau 71,1 persen dari target 1 juta KPM telah mengembalikan kartu KKS karena sudah mampu secara ekonomi," kata Ari.

"Untuk keluar dari jerat kemiskinan ini harus dimulai dari diri sendiri. Pemerintah sifatnya mendukung. Kalau dihitung, bantuan PKH itu berapa per tahun, paling Rp 5 juta sampai Rp 6 juta," kata Juliari menambahkan.

SPONSORED CONTENT

loading...
loading...
fathra