Muhammad Rizky Habibi Pembuat Aplikasi ABK

Dahulu Diusir-usir, Kini Banyak Yang Cari

Muhammad Rizky Habibi Pembuat Aplikasi ABK
Muhammad Rizky Habibi Pembuat Aplikasi ABK

Dia terus mengembangkannya supaya aplikasi tersebut accessible atau mudah digunakan dan dimengerti orang tua ABK. ’’Selagi terus menyempurnakannya sejak pertengahan 2012, saya mulai ikut berbagai kompetisi. Ternyata, tanggapannya luar biasa,’’ papar Habibi.

Dari semua kompetisi yang diikutinya, Habibi paling bangga dengan pencapaian sebagai juara I kategori World Citizenship Indonesia yang diadakan Microsoft Corp. Setelah itu, Cakra mewakili Indonesia menjadi semifinalis kategori World Citizenship International dalam ImagineCup International. Di antara 100 semifinalis, dipilih 10 finalis yang akan bertanding di Seattle, Amerika Serikat. ”Sayangnya, enggak masuk 10 besar,” katanya.

Yang penting, sekarang dia bersama timnya berfokus untuk mengembangkan Cakra. Awalnya, Cakra hanya berisi 20 macam terapi dengan empat jenis laporan mengenai diagnosis kondisi penderita. Namun, dalam perkembangannya, saat ini jumlah terapi yang terpasang 137 jenis.

Dalam aplikasi itu, juga terdapat dua jenis alat yang digunakan. Pertama adalah proton. Alat tersebut berfungsi untuk terapi okupasi dan reseptif. Alat yang kedua adalah kinect yang berfungsi untuk terapi motorik penderita.

Selain itu, Habibi membenamkan tiga fitur utama berupa evaluasi, terapi, dan laporan. Anak yang bisa mengakses terapi tersebut adalah penderita autis, ADHD, ADD, down syndrome, keterbelakangan mental, asperger, dan slow learner. Sekarang Cakra mulai dikomersialkan. ’’Tapi, saya tetap menyediakan aplikasi yang bisa di-download gratis,’’ ujarnya.

Habibi telah membuat laman cakra-app.com yang bisa diakses para orang tua ABK. Dalam laman tersebut, ada beberapa versi. Tidak semuanya bebas diakses. Versi pertama adalah bronze. Aplikasi tersebut dapat diunduh secara gratis di laman resmi Cakra.

Versi kedua adalah silver. Dalam versi tersebut, pengguna dapat mengakses Cakra lengkap dengan proton dan kinect. Selain itu, pengguna mendapatkan 50 jenis terapi. Terakhir adalah gold. Versi tersebut menawarkan 137 jenis terapi lengkap dengan proton dan kinect. ’’Versi silver dan gold sekarang sudah dikomersialkan. Harus bayar, tapi tidak mahal kok,’’ paparnya.

Meski sudah dikomersialkan, banyak orang tua yang tetap berminat membelinya. Bahkan, pembeli aplikasinya bukan hanya dari Surabaya. Melainkan, sudah tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Pembelinya bukan hanya kalangan orang tua, tetapi juga terapis dan psikolog. Ke depan Habibi ingin bekerja sama dengan dinas pendidikan kota/kabupaten untuk memasang aplikasinya di sekolah-sekolah inklusi. (*/c6/ayi)


Berawal dari kesadarannya bahwa tidak semua anak berkebutuhan khusus (ABK) berasal dari kalangan mampu, Muhammad Rizky Habibi menciptakan aplikasi


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News